sakuranya sudah layu.
*ini dia*
para mahasiswa jepang ini masih berdiri di depan pintu masuk universitas sogang seoul, dan ami masih ingin bertemu dengan eiji. dimana kau eiji. itulah yang ada di kepala ami. dia juga bertemu dengan teman baru yang pergi bersamanya dalam tur ini.
"baiklah kalian diberikan waktu untuk menjelajah sekolah ini kalian diwajibkan untuk memberikan laporan apa-saja yang kalian lihat dan pelajari disini. unutk kalian sekolah ini bisa di jadikan latar pada cerita yang akan kalian buat, dan tidak usah terburu-buru karena kita akan kembali ke penginapan unutk beberapa jam lagi." kakak panitianya itu mempersilahkan para siswanya dan semuanya berpencar mencari teman masing-masing untuk berkeliling.
*bicara dalam bhs inggris
"hai kau ami kan ? " seorang wanita menepuk pundak ami dan otomatis ami berbalik.
"kau.... eunjo kan ... wanita korea yang di jepang waktu itu.? " ami terus bersalaman dengan eunjo.
"sebenarnya aku ingin tinggal lebih lama lagi. tapi tugas memanggil ku, kau kenapa ada disini ? kau anggota mahasiswa yang datang untuk study tour ya ?" eunjo pun melingkarkan tangan kanannya ke tangan kiri ami.
"mari ku ajak kau melihat kampusku." eunjo dengan semangat menarik lengan ami dan berjalan di tengah keramaian siswa korea.
"sekolahmu indah sekali." ami melihat lihat sekolah sugong yang memang agak lebih besar.
"terimakasih aku menghargainya." eunjo pun menarik ami ke arah para pria yang sedang bermain tennis.
"tennis disini lebih ramai daripada di jepang"
"benarkah. " kata eunjo sambil melambaikan tanganarnya kepada salah satu lelaki disana.
lalu lelaki itu berbalik menatap ami dan eunjo.
"eiji........" ami mebelalakkan matanya melihat eiji juga sama kagetnya melihat ami.
"you know him ? he is one of my boyfriend" mendengar kata-kata eunjo ami menatap eunjo dengan tatapan aneh.
"boyfriend ?" anehnya ami merasa ada yang sakit dihatinya tiba-tiba.
"ah aku tidak kenal dia..... eiji itu maksudnya dia mirip sama orang yang kukenal tapi mungkin itu bukan dia, oh sudah hampir jam makan siang..... aku...aku pergi dulu" ami langsung terbata-bata dan ingin meninggalkan lapangan tennis itu.
eiji melihat ami akan pergi dia pun mempercepat langkahnya sesampainya di posisi eunjo ami sudah keluar lapangan tennis itu.
eiji mengejar ami tapi ami lebih pintar ami bersembunyi agar eiji tidak melihatnya.
"ada apa eiji.?" eunjo menghampiri eiji yang berdiri sambil melongok ke kanan dan ke kiri.
"ku kira aku melihat orang yang ku kenal tapi sepertinya aku salah." eiji pun berbalik.
ami segera bergabung dengan grupnya dan ikut makan siang . ia masih kepikiran dengan apa yang terjadi. ini dia. mungkin ini telah menyatakan padanya kalau eiji telah pergi.....
bersambung
Rabu, 23 September 2015
Sabtu, 19 September 2015
-sakuranya sudah layu-
*benarkah ?*
"AMI AMI !!!! AMIIIIII" Terdengar suara hiruka yang berteriak memanggil ami.
"tenanglah ada apa ?" ami menaikkan sebelah alisnya.
hiruka sangat kelelahan bahkan nafasnya tersengal-sengal. "kau tidak akan percaya ini ami." hiruka langsung menarik tangan ami , menuruni satu demi satu anak tangga. dan tibalah ami dan hiruka di depan mading.
"oh iya ,,,, aku lupa." ami langsung berdiri tepat di depan kertas pengumuman pemenang penulis cerpen.
"kau peringkat pertama ami.!!!" hiruka mengguncang-guncangkan tubuh ami, sedangkan ami hanya bisa membelalakkan matanya dan melihat pengumuman itu tanpa henti-henti.
ami langusng merogoh tasnya dan mengambil ponselnya.
"aku menang.......aku menang eiji...aku menang......" wajah ami tersenyum dia terus mendengarkan ponselnya itu dan beberapa saat kemudian ia pun menutup ponselnya.
"eiji bilang apa.?"
ami hanya tersenyum menyimpan kembali ponselnya itu.
***
"waaahh lusa kau akan berangkat ke korea. bagus sekali." hiruka membuyarkan lamunan ami
"iya.... tapi aku akan kembali tenang saja.." ami hanya mengigiti pulpennya, sambil tersenyum.
hari yang ditunggu tiba, ami sudah siap berangkat ia bahkan mendapat peta kota korea , ia pun mengambil kotak dan melihat bunga sakura yang layu disana. lalu ia teringat dengan kejadian waktu piknik itu. ia segera mengambil kopernya dan berangkat ke kampus untuk berangkat dengan teman-teman yang masuk rank 1 hingga 10.
selama penerbangan itu ami masih senyum-senyum, memikirkan apa yang akan terjadi ketika ia menemui eiji nanti.
"baiklah semuanya ini adalah tempat kalian menginap selama 2 minggu di korea, jadi buatlah senyaman mungkin." panitia itu pun memberikan kertas pelayanan kepada ami, disana tertera apa saja pelayanan hotel itu.
setelah beberapa jam istirahat ami dan teman-temannya pergi ke suatu kampus ternama korean mereka diizinkan untuk mengexplore kampus tersebut.
-bersambung-
*benarkah ?*
"AMI AMI !!!! AMIIIIII" Terdengar suara hiruka yang berteriak memanggil ami.
"tenanglah ada apa ?" ami menaikkan sebelah alisnya.
hiruka sangat kelelahan bahkan nafasnya tersengal-sengal. "kau tidak akan percaya ini ami." hiruka langsung menarik tangan ami , menuruni satu demi satu anak tangga. dan tibalah ami dan hiruka di depan mading.
"oh iya ,,,, aku lupa." ami langsung berdiri tepat di depan kertas pengumuman pemenang penulis cerpen.
"kau peringkat pertama ami.!!!" hiruka mengguncang-guncangkan tubuh ami, sedangkan ami hanya bisa membelalakkan matanya dan melihat pengumuman itu tanpa henti-henti.
ami langusng merogoh tasnya dan mengambil ponselnya.
"aku menang.......aku menang eiji...aku menang......" wajah ami tersenyum dia terus mendengarkan ponselnya itu dan beberapa saat kemudian ia pun menutup ponselnya.
"eiji bilang apa.?"
ami hanya tersenyum menyimpan kembali ponselnya itu.
***
"waaahh lusa kau akan berangkat ke korea. bagus sekali." hiruka membuyarkan lamunan ami
"iya.... tapi aku akan kembali tenang saja.." ami hanya mengigiti pulpennya, sambil tersenyum.
hari yang ditunggu tiba, ami sudah siap berangkat ia bahkan mendapat peta kota korea , ia pun mengambil kotak dan melihat bunga sakura yang layu disana. lalu ia teringat dengan kejadian waktu piknik itu. ia segera mengambil kopernya dan berangkat ke kampus untuk berangkat dengan teman-teman yang masuk rank 1 hingga 10.
selama penerbangan itu ami masih senyum-senyum, memikirkan apa yang akan terjadi ketika ia menemui eiji nanti.
"baiklah semuanya ini adalah tempat kalian menginap selama 2 minggu di korea, jadi buatlah senyaman mungkin." panitia itu pun memberikan kertas pelayanan kepada ami, disana tertera apa saja pelayanan hotel itu.
setelah beberapa jam istirahat ami dan teman-temannya pergi ke suatu kampus ternama korean mereka diizinkan untuk mengexplore kampus tersebut.
-bersambung-
Kamis, 10 September 2015
-sakuranya sudah layu-
*aku harus menang*
ami memasuki ruang kampusnya, sebelum masuk ami sempat pergi ke mading kampus dan disana ada pengumuman tulis cerpen dan memenangkan trip study tour ke korea, ami berpikir dia pernah memenangkan juara satu perlombaan menulis cerpen, ia ingin sekali pergi ke korean terutama karena eiji ada disana.
ami langsung mengambil formulir pendaftaran dan langsung memulai pekerjaannya, di ruang kampusnya.
*bicara dalam bahasa jepang*
"ohayou ami (selamat pagi ami)." hiruka menghampiri ami yang tengah sibuk dengan laptopnya itu.
"ohayou.... " mata ami masih fokus ke arah laptopnya itu.
"ini cerpen ,, kau ikut lomba cerpen itu. waaahh sugoi(keren)" hiruka juga ikut memandangi laptop itu.
"jika menang pasti kau ke korea kan ?" hiruka sedikit menyenggol bahu ami.
"hentikan." ami pun menyimpan dokumennya dan menutup laptopnya.
"kenapa berhenti" hiruka merasa kalau ami berhenti karena kehadiran dirinya.
"aku masih bingung dengan jalan ceritanya , aku ingin mencari inspirasi dulu, sampai nanti." ami pun pergi sambil melambaikan tangannya.
ami pun pergi ke sebuah taman kota tokyo dan ingin mencari inspirasi disana, ia merasa iri dengan pasangan kekasih yang berjalan-jalan, sambil berpegangan tangan. ia pun mendapatkan ide tetang cerita dirinya dan eiji saat ia menyadari kalau ia belum mengatakan iya atau tidak.
dengan susah payah ami menyelesaikan cerpennya itu dan hiruka bisa melihat mata ami yang menghitam seperti panda. ami terlalu sibuk dengan cerpennya, sampai-sampai ia lupa dengan kesehatannya.
"permisi aku akan mengirimkan cerpen ini" ami sudah sampai di ruang panitia pengumpulan cerpen.
"baiklah kau akan terima hasilnya dua hari setelah hari ini" wanita berkaca mata itu pun mengambil cerpen nya dan memuatnya di dalam map yang besar bersama cerpen-cerpen yang lain.
ami pun pergi ke ruang kampusnya dan bertemu hiruka sedang berdandan untuk kencan buta,
"kau mau kemana.?" ami dudu tepat di depan hiruka yang sedang berdandan itu.
"kencan buta.." ami agak terkejut dengan pernyataan hiruka itu.
"lagi ? seingatku kau pernah bertemu dengan dengan orang yang sengaja memasang photo profilenya tampan namu kau bertemu orang aneh." ami pun menaikkan sebelah alisnya.
"ayolah ami yang kesekian kalinya pasti tepat." hiruka masih saja syik berdandan.
"bagaimana cerpenmu ?"
"butuh dua hari lagi, agar aku tau hasilnya." ami mengernyitkan dahinya.
"tenang... kau pasti menang." hiruka masih tampak sibuk dengan lipstick nya itu.
"aku harap." ami hanya menarik nafas panjang dan tersenyum ke arah hiruka.
*aku harus menang*
ami memasuki ruang kampusnya, sebelum masuk ami sempat pergi ke mading kampus dan disana ada pengumuman tulis cerpen dan memenangkan trip study tour ke korea, ami berpikir dia pernah memenangkan juara satu perlombaan menulis cerpen, ia ingin sekali pergi ke korean terutama karena eiji ada disana.
ami langsung mengambil formulir pendaftaran dan langsung memulai pekerjaannya, di ruang kampusnya.
*bicara dalam bahasa jepang*
"ohayou ami (selamat pagi ami)." hiruka menghampiri ami yang tengah sibuk dengan laptopnya itu.
"ohayou.... " mata ami masih fokus ke arah laptopnya itu.
"ini cerpen ,, kau ikut lomba cerpen itu. waaahh sugoi(keren)" hiruka juga ikut memandangi laptop itu.
"jika menang pasti kau ke korea kan ?" hiruka sedikit menyenggol bahu ami.
"hentikan." ami pun menyimpan dokumennya dan menutup laptopnya.
"kenapa berhenti" hiruka merasa kalau ami berhenti karena kehadiran dirinya.
"aku masih bingung dengan jalan ceritanya , aku ingin mencari inspirasi dulu, sampai nanti." ami pun pergi sambil melambaikan tangannya.
ami pun pergi ke sebuah taman kota tokyo dan ingin mencari inspirasi disana, ia merasa iri dengan pasangan kekasih yang berjalan-jalan, sambil berpegangan tangan. ia pun mendapatkan ide tetang cerita dirinya dan eiji saat ia menyadari kalau ia belum mengatakan iya atau tidak.
dengan susah payah ami menyelesaikan cerpennya itu dan hiruka bisa melihat mata ami yang menghitam seperti panda. ami terlalu sibuk dengan cerpennya, sampai-sampai ia lupa dengan kesehatannya.
"permisi aku akan mengirimkan cerpen ini" ami sudah sampai di ruang panitia pengumpulan cerpen.
"baiklah kau akan terima hasilnya dua hari setelah hari ini" wanita berkaca mata itu pun mengambil cerpen nya dan memuatnya di dalam map yang besar bersama cerpen-cerpen yang lain.
ami pun pergi ke ruang kampusnya dan bertemu hiruka sedang berdandan untuk kencan buta,
"kau mau kemana.?" ami dudu tepat di depan hiruka yang sedang berdandan itu.
"kencan buta.." ami agak terkejut dengan pernyataan hiruka itu.
"lagi ? seingatku kau pernah bertemu dengan dengan orang yang sengaja memasang photo profilenya tampan namu kau bertemu orang aneh." ami pun menaikkan sebelah alisnya.
"ayolah ami yang kesekian kalinya pasti tepat." hiruka masih saja syik berdandan.
"bagaimana cerpenmu ?"
"butuh dua hari lagi, agar aku tau hasilnya." ami mengernyitkan dahinya.
"tenang... kau pasti menang." hiruka masih tampak sibuk dengan lipstick nya itu.
"aku harap." ami hanya menarik nafas panjang dan tersenyum ke arah hiruka.
Rabu, 09 September 2015
-sakuranya sudah layu-
*teman baru*
"ada yang ingin aku beritahu lagi......" eiji pun memegang tangan ami.
"kau sahabatku ami.... tapi merasa ada yang aneh,,,,, aku tidak bisa melupakan senyumanmu walau semenit saja, itulah sebab aku selalu mengetuk jendelamu kalau aku merindukanmu...." ami mendongak, ami tidak menyangka kalau perasaannya sama dengan perasaan eiji itu sama tapi ami terlalu malu untuk mengatakannya.
"ami aku meyukaimu........aku ingin jadi suamimu suatu hari nanti,,, setelah aku pulang dari korea aku akan langsung menikahimu, kau mau kan ? " ami membelalakan matanya setengah tidak percaya, eiji tersenyum dan mencium ami tepat di bawah bunga sakura yang belum mekar.
sudah lewat beberapa hari dari kejadian piknik itu, eiji pun sudah pergi ke korea, mereka setiap malam selalu berbicara tentang hari mereka. ami juga sudah ada di tokyo. dia berhasil memasuki salah satu universitas disana.
ami berjalan-jalan di taman sakura yang ada di tokyo, sakuranya sudah mekar dan bertaburan, ia melihat para kekasih tertawa dan makan dibawah pohon sakura. tentu saja ia merasa iri, biasanya saat ini ia juga akan bersama eiji, makan bola nasi yang besar. bahkan di mulut juga tidak muat, ami hanya tertawa sendiri jika mengingat kenangan itu.
"anyeong haseyo !" ami melihat ke kanannya dan melihat seorang gadis berambut bob duduk disampingnya dan tersenyum.
"na , dangsin-eun i jusoleul algo sillye ?(permisi kau tahu alamat ini) ?" ami hanya menaikkan seelah alisnya dan mengangkat kedua bahunya, tentu saja ia tidak mengerti.
"oh sorry, you know this adress ?" dia pun kembali berbahasa inggris dan barulah ami mengerti,.
"i'm still new in here sorry i dont know, but i can help you to ask the security here." ami pun berdiri dan menyandang tasnya.
"thank you so much." mereka pun pergi ke kantor security, dan bertemu dengan salah satu petugas disana.
"Anata wa kono adoresu de watashitachi o tasukeru koto ga dekiru baai wa, osoreirimasuga? Miru tame ni watashitachi no konran.(permisi, apakah anda bisa membantu kami dengan alamat ini ? kami kebingungan mencarinya.)"
"Ā, kono adoresu wa koko kara wazuka 3 burokkudesu. Sonogo, sasetsu. Kore ga saidai no apāto no jūshodesu.(oh, alamat ini hanya tiga block dari sini. kemudian, belok kiri. ini adalah alamat apartemen terbesar disana. )" kata petugas itu.
"Sono shōsai ni tsuite wa, dōmo arigatōgozaimashita. (terimakasih banyak, atas informasinya.)" ami pun mengajak wanita itu pergi ke alamat yang dituju.
*bicara dalam bahasa inggris.*
"jadi, siapa namamu ?" ami melihat wanita itu yang tengah mengikuti ami dari belakang.
"namaku song eunjo, kau bisa panggil aku eunjo." balas eunjo.
"pasti kau dari korea kan ? aku bisa lihat dari bahasamu tadi." mereka terus berjalan menyusuri blok demi blok memang agak jauh tapi eunjo menolak menaiki taksi dia ingin menikmati jepang lebih dalam lagi.
"benar ! aku datang ke sini karena saran dari temanku, dia juga seorang jepang.!" eunjo pun mengambil sesuatu dari tasnya dan ternyata itu ponselnya.
"annyeonghaseyo , oppa . naega dochaghaessseubnida . jeongmal aleumdaun ilbon . yeogi sonsildoebnida. (hallo, oppa. aku sudah sampai. jepang indah sekali, sungguh. aku sampai tersesat disini.)" eunjo terlihat mengobrol dengan seseorang di seberang sana.
"ani, o . naneun chingu leul mannassda.(oh , tidak. aku bertemu teman)" ami tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"ye. naneun god naega apateulo eod-eul geos-ida , jasin-eul yujihabnida.(iya. aku akan jaga diri, sebentar lagi aku akan sampai di apartemennya.)" eunjo melirik ami dan kembali fokus ke ponselnya.
"ne, annyeong , 'ye' ( iya, sudah ya, bye ) " eunjo pun menutup teleponnya
"dari siapa ?" ami melihat teman barunya itu.
"dari temanku yang jepang tadi , dia khawatir aku sudah sampai atau belum." ami hanya mengangguk.
"kau punya kekasih ?" ami agak terkejut dengan pertanyaan eunjo. ;oh iya apa sebenarnya hubungannya dengan eiji pasalnya dia belum menjawab pertanyaan eiji, sampai sekarang. oh tidak ! apakah itu artinya eiji tidak akan pulang. ami bertengkar dengan pikirannya sendiri.
"hei kau kenapa ?" ami pun melihat eunjo yang tengah melambai-lambaikan tangannya.
"oh tidak-apa-apa, hey kita sudah sampai ini apartemennya, " eunjo melihat sekeliling bangunan itu.
"baiklah, terima kasih ya ! oh iya ! siapa namamu tadi ?"
"Ami." ami pun melambaikan tangannya dan mereka pun berpisah, ami menelpon eiji untuk menceritakan kalau dia punya teman baru tapi ponsel eiji tidak aktif. ami hanya menarik nafas panjang, mungkin eiji sibuk. ami pun memanggil taxi dan pergi ke kampusnya.
-bersambung-
*teman baru*
"ada yang ingin aku beritahu lagi......" eiji pun memegang tangan ami.
"kau sahabatku ami.... tapi merasa ada yang aneh,,,,, aku tidak bisa melupakan senyumanmu walau semenit saja, itulah sebab aku selalu mengetuk jendelamu kalau aku merindukanmu...." ami mendongak, ami tidak menyangka kalau perasaannya sama dengan perasaan eiji itu sama tapi ami terlalu malu untuk mengatakannya.
"ami aku meyukaimu........aku ingin jadi suamimu suatu hari nanti,,, setelah aku pulang dari korea aku akan langsung menikahimu, kau mau kan ? " ami membelalakan matanya setengah tidak percaya, eiji tersenyum dan mencium ami tepat di bawah bunga sakura yang belum mekar.
sudah lewat beberapa hari dari kejadian piknik itu, eiji pun sudah pergi ke korea, mereka setiap malam selalu berbicara tentang hari mereka. ami juga sudah ada di tokyo. dia berhasil memasuki salah satu universitas disana.
ami berjalan-jalan di taman sakura yang ada di tokyo, sakuranya sudah mekar dan bertaburan, ia melihat para kekasih tertawa dan makan dibawah pohon sakura. tentu saja ia merasa iri, biasanya saat ini ia juga akan bersama eiji, makan bola nasi yang besar. bahkan di mulut juga tidak muat, ami hanya tertawa sendiri jika mengingat kenangan itu.
"anyeong haseyo !" ami melihat ke kanannya dan melihat seorang gadis berambut bob duduk disampingnya dan tersenyum.
"na , dangsin-eun i jusoleul algo sillye ?(permisi kau tahu alamat ini) ?" ami hanya menaikkan seelah alisnya dan mengangkat kedua bahunya, tentu saja ia tidak mengerti.
"oh sorry, you know this adress ?" dia pun kembali berbahasa inggris dan barulah ami mengerti,.
"i'm still new in here sorry i dont know, but i can help you to ask the security here." ami pun berdiri dan menyandang tasnya.
"thank you so much." mereka pun pergi ke kantor security, dan bertemu dengan salah satu petugas disana.
"Anata wa kono adoresu de watashitachi o tasukeru koto ga dekiru baai wa, osoreirimasuga? Miru tame ni watashitachi no konran.(permisi, apakah anda bisa membantu kami dengan alamat ini ? kami kebingungan mencarinya.)"
"Ā, kono adoresu wa koko kara wazuka 3 burokkudesu. Sonogo, sasetsu. Kore ga saidai no apāto no jūshodesu.(oh, alamat ini hanya tiga block dari sini. kemudian, belok kiri. ini adalah alamat apartemen terbesar disana. )" kata petugas itu.
"Sono shōsai ni tsuite wa, dōmo arigatōgozaimashita. (terimakasih banyak, atas informasinya.)" ami pun mengajak wanita itu pergi ke alamat yang dituju.
*bicara dalam bahasa inggris.*
"jadi, siapa namamu ?" ami melihat wanita itu yang tengah mengikuti ami dari belakang.
"namaku song eunjo, kau bisa panggil aku eunjo." balas eunjo.
"pasti kau dari korea kan ? aku bisa lihat dari bahasamu tadi." mereka terus berjalan menyusuri blok demi blok memang agak jauh tapi eunjo menolak menaiki taksi dia ingin menikmati jepang lebih dalam lagi.
"benar ! aku datang ke sini karena saran dari temanku, dia juga seorang jepang.!" eunjo pun mengambil sesuatu dari tasnya dan ternyata itu ponselnya.
"annyeonghaseyo , oppa . naega dochaghaessseubnida . jeongmal aleumdaun ilbon . yeogi sonsildoebnida. (hallo, oppa. aku sudah sampai. jepang indah sekali, sungguh. aku sampai tersesat disini.)" eunjo terlihat mengobrol dengan seseorang di seberang sana.
"ani, o . naneun chingu leul mannassda.(oh , tidak. aku bertemu teman)" ami tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"ye. naneun god naega apateulo eod-eul geos-ida , jasin-eul yujihabnida.(iya. aku akan jaga diri, sebentar lagi aku akan sampai di apartemennya.)" eunjo melirik ami dan kembali fokus ke ponselnya.
"ne, annyeong , 'ye' ( iya, sudah ya, bye ) " eunjo pun menutup teleponnya
"dari siapa ?" ami melihat teman barunya itu.
"dari temanku yang jepang tadi , dia khawatir aku sudah sampai atau belum." ami hanya mengangguk.
"kau punya kekasih ?" ami agak terkejut dengan pertanyaan eunjo. ;oh iya apa sebenarnya hubungannya dengan eiji pasalnya dia belum menjawab pertanyaan eiji, sampai sekarang. oh tidak ! apakah itu artinya eiji tidak akan pulang. ami bertengkar dengan pikirannya sendiri.
"hei kau kenapa ?" ami pun melihat eunjo yang tengah melambai-lambaikan tangannya.
"oh tidak-apa-apa, hey kita sudah sampai ini apartemennya, " eunjo melihat sekeliling bangunan itu.
"baiklah, terima kasih ya ! oh iya ! siapa namamu tadi ?"
"Ami." ami pun melambaikan tangannya dan mereka pun berpisah, ami menelpon eiji untuk menceritakan kalau dia punya teman baru tapi ponsel eiji tidak aktif. ami hanya menarik nafas panjang, mungkin eiji sibuk. ami pun memanggil taxi dan pergi ke kampusnya.
-bersambung-
Selasa, 08 September 2015
-sakuranya sudah layu.-
*berpisah ?*
"AMI !!!" ami berhenti mendengar seseorang memanggil namanya dari kejauhan dan membalikkan badannya.
"eiji kun !!" ami pun berlari ke arah eiji yang tengah menenteng sepedanya.
"hmm ami kau mau temani aku piknik besok.?" ami melihat eiji dan mengangguk dengan cepat.
"baguslah,,," eiji mengelus rambut ami sampai berantakan.
ami dan eiji sudah bersahabat sejak kecil. mereka berjanji akan selalu bersama selamanya hanya waktu dan tuhan yang akan memisahkan mereka.
"eiji ........ kau ingin melanjut kemana ?" ami melihat ke arah eiji yang masih menenteng sepedanya.
"entahlah....." eiji langsung berhenti dan melihat ami dengan mata serius dan sedikit mencemberutkan mulutnya.
"kau ?" eiji bertanya hal yang sama kepada ami, ia ingin tau kemana ai akan melanjut.
"aku juga belum tau.... tapi aku ingin ke tokyo." ami kemudian kembali berjalan diiringi lompatan-lompatan kecil.
"kenapa tokyo.?" eiji menaikkan sebelah alisnya.
"entahlah mungkin hanya tokyo yang belum ku kunjungi.!" ami terus berjalan dengan senyuman lebar.
ada sesuatu yang mengganjal di hati eiji, dan ingin memberitahukannya kepada ami tapi,,, ia takut ami akan marah. karena ini bisa melanggar janji mereka yang sudah mereka buat selama ini.
rumah eiji dan ami bersebelahan bahkan jendela kamar mereka bersebelahan.
"aku pulang...." ami memasuki rumah dan melihat ibunya sedang bercengkrama dengan ibunya eiji.
"aahhh ami chan kau sudah pulang, mungkin eiji juga sudah pulang , baiklah nyonya nakashima aku pergi dulu " ibunya eiji pun pergi dan hanya tinggal ami dan ibunya diruang tamu.
"pergilah ganti bajumu setelah itu makan ibu sudah buat kari untukmu." ibunya ami pun pergi ke dapur.
ami perlahan membuka pintu kamarnya dan duduk di depan komputernya, ia pun mendengar jendelanya di ketuk.
"eiji kun ! ada apa ?" ami melihat eiji membawa kotak kardus kecil.
"ini komik, kau suka kan ?" ami memang sangat menyukai komik bahkan koleksi komik dikamarnya sudah seperti perpustakaan.
"terima kasih eijikun. " ami pun menaruh komik itu di lantai kamarnya dan kembali melihat eiji.
"jangan lupa besok ya !" eiji pun.menutup jendelanya dan amipun segera masuk ke kamarnya.
sudah siang tapi eiji belum juga terlihat, ami sudah membawa keranjang piknik dan melihat pohon sakura sudah siap untuk mekar.
"AMI !!" suara eiji terdengar dari kejauhan.
"kau terlambat,,,,, aku sudah lama disini." ami langsung membalikkan badannya dan memperlihatkan wajahnya yang cemberut.
"maaf-maaf, aku mencari ini." eiji pun memperlihatkan bunga sakura yang dibawanya ami melihat bunga itu dengan mata terbelalak.
"seharusnya kita piknik di saat sakura mekar tapi karena sakura belum mekar jadinya aku beli sakura ini, kau simpan ya ! sebagai permintaan maaf dan anggap kalau kita berpiknik saat sakura mekar." senyuman eiji bisa meluluhkan hati ami yang saat itu sedang dongkol dan ia pun tersenyum.
"wow bola nasi ini terlalu besar untuk ukuran mulutku." eiji menggoda ami karena bola nasi ami memang sedikit agak besar.
"aku sudah susah payah." eiji pun mengelus kepala ami.
"yaahh aku bisa lihat itu. kita makan sekarang.?" ami mengangguk dan mereka pun mempunyai waktu piknik yang luar biasa.
"ami......." eiji melihat ami disampingnya.
"hmmm ?" ami melihat eiji dan mereka slaing berpandangan.
"aku ...... tidak akan ada di jepang untuk waktu yang lama." eiji kembali menatap kedepan dengan wajah yang lesu dan sedih.
"kenapa ?" ami pun mulai melihat eiji dengan mata bertanya-tanya.
"aku akan ke korea untuk waktu yang lama. dan mungkin akan tinggal disana." mia menghadap eiji dengan mata yang hampir berair.
"kenapa ?" ami tidak percaya kalau eiji akan pergi.
"karena aku akan sekolah dan bekerja disana." eiji pun menghadap ami yang matanya sudah berkaca-kaca.
"kenapa ?" ami pun mengusap matanya yang sudah berair.
"ami...... tidak selamanya aku akan disini ." eiji pun mengusap air mata ami.
semakin lama tangisan ami menjadi tersedu-sedu dan semakin keras.
"sudahlah ami,,, ini juga terasa berat untukku,, tapi aku harus berusaha kan ,, agar aku mendapat yang terbaik." eiji pun melihat sakura yang ada di depan mereka berdua.
"aku akan pergi sebelum sakura mekar ami... jadi ku harap sakura ini bisa mengingatkanmu padaku." eiji mengambil sakura itu dan memberikannya pada ami.
ami hanya mengangguk dan masih menahan tangisnya.
-bersambung-
*berpisah ?*
"AMI !!!" ami berhenti mendengar seseorang memanggil namanya dari kejauhan dan membalikkan badannya.
"eiji kun !!" ami pun berlari ke arah eiji yang tengah menenteng sepedanya.
"hmm ami kau mau temani aku piknik besok.?" ami melihat eiji dan mengangguk dengan cepat.
"baguslah,,," eiji mengelus rambut ami sampai berantakan.
ami dan eiji sudah bersahabat sejak kecil. mereka berjanji akan selalu bersama selamanya hanya waktu dan tuhan yang akan memisahkan mereka.
"eiji ........ kau ingin melanjut kemana ?" ami melihat ke arah eiji yang masih menenteng sepedanya.
"entahlah....." eiji langsung berhenti dan melihat ami dengan mata serius dan sedikit mencemberutkan mulutnya.
"kau ?" eiji bertanya hal yang sama kepada ami, ia ingin tau kemana ai akan melanjut.
"aku juga belum tau.... tapi aku ingin ke tokyo." ami kemudian kembali berjalan diiringi lompatan-lompatan kecil.
"kenapa tokyo.?" eiji menaikkan sebelah alisnya.
"entahlah mungkin hanya tokyo yang belum ku kunjungi.!" ami terus berjalan dengan senyuman lebar.
ada sesuatu yang mengganjal di hati eiji, dan ingin memberitahukannya kepada ami tapi,,, ia takut ami akan marah. karena ini bisa melanggar janji mereka yang sudah mereka buat selama ini.
rumah eiji dan ami bersebelahan bahkan jendela kamar mereka bersebelahan.
"aku pulang...." ami memasuki rumah dan melihat ibunya sedang bercengkrama dengan ibunya eiji.
"aahhh ami chan kau sudah pulang, mungkin eiji juga sudah pulang , baiklah nyonya nakashima aku pergi dulu " ibunya eiji pun pergi dan hanya tinggal ami dan ibunya diruang tamu.
"pergilah ganti bajumu setelah itu makan ibu sudah buat kari untukmu." ibunya ami pun pergi ke dapur.
ami perlahan membuka pintu kamarnya dan duduk di depan komputernya, ia pun mendengar jendelanya di ketuk.
"eiji kun ! ada apa ?" ami melihat eiji membawa kotak kardus kecil.
"ini komik, kau suka kan ?" ami memang sangat menyukai komik bahkan koleksi komik dikamarnya sudah seperti perpustakaan.
"terima kasih eijikun. " ami pun menaruh komik itu di lantai kamarnya dan kembali melihat eiji.
"jangan lupa besok ya !" eiji pun.menutup jendelanya dan amipun segera masuk ke kamarnya.
sudah siang tapi eiji belum juga terlihat, ami sudah membawa keranjang piknik dan melihat pohon sakura sudah siap untuk mekar.
"AMI !!" suara eiji terdengar dari kejauhan.
"kau terlambat,,,,, aku sudah lama disini." ami langsung membalikkan badannya dan memperlihatkan wajahnya yang cemberut.
"maaf-maaf, aku mencari ini." eiji pun memperlihatkan bunga sakura yang dibawanya ami melihat bunga itu dengan mata terbelalak.
"seharusnya kita piknik di saat sakura mekar tapi karena sakura belum mekar jadinya aku beli sakura ini, kau simpan ya ! sebagai permintaan maaf dan anggap kalau kita berpiknik saat sakura mekar." senyuman eiji bisa meluluhkan hati ami yang saat itu sedang dongkol dan ia pun tersenyum.
"wow bola nasi ini terlalu besar untuk ukuran mulutku." eiji menggoda ami karena bola nasi ami memang sedikit agak besar.
"aku sudah susah payah." eiji pun mengelus kepala ami.
"yaahh aku bisa lihat itu. kita makan sekarang.?" ami mengangguk dan mereka pun mempunyai waktu piknik yang luar biasa.
"ami......." eiji melihat ami disampingnya.
"hmmm ?" ami melihat eiji dan mereka slaing berpandangan.
"aku ...... tidak akan ada di jepang untuk waktu yang lama." eiji kembali menatap kedepan dengan wajah yang lesu dan sedih.
"kenapa ?" ami pun mulai melihat eiji dengan mata bertanya-tanya.
"aku akan ke korea untuk waktu yang lama. dan mungkin akan tinggal disana." mia menghadap eiji dengan mata yang hampir berair.
"kenapa ?" ami tidak percaya kalau eiji akan pergi.
"karena aku akan sekolah dan bekerja disana." eiji pun menghadap ami yang matanya sudah berkaca-kaca.
"kenapa ?" ami pun mengusap matanya yang sudah berair.
"ami...... tidak selamanya aku akan disini ." eiji pun mengusap air mata ami.
semakin lama tangisan ami menjadi tersedu-sedu dan semakin keras.
"sudahlah ami,,, ini juga terasa berat untukku,, tapi aku harus berusaha kan ,, agar aku mendapat yang terbaik." eiji pun melihat sakura yang ada di depan mereka berdua.
"aku akan pergi sebelum sakura mekar ami... jadi ku harap sakura ini bisa mengingatkanmu padaku." eiji mengambil sakura itu dan memberikannya pada ami.
ami hanya mengangguk dan masih menahan tangisnya.
-bersambung-
Senin, 07 September 2015
<3 apa masih ada harapan ?--
jessica termenung membaca sms dari sam kekasihnya, ia masih merasa kalau sam terlalu sibuk walau hanya untuk sekedar berbicara padanya, setiap kali sam mengirimkan sms jessica langsung menelfonnya dan selalu saja hp sam sibuk. sam selalu bilang kalau yang ia lakukan di tempat kerja itu untuk mereka berdua tapi tetap saja jessica merasa kalau ia tak pernah diperhatikan.
jessica pergi ke restoran ditempat ia bekerja sebagai manager, ia masih kepikiran dengan kelakuan sam akhir-akhir ini, ia masih bisa mengingat saat SMA Sam berlari hujan-hujanan hanya untuk menembak jessica, apakah hanya sampai disitu keromantisan yang ia miliki ? jessica tak pernah menaruh curiga pada sam tapi yang jelas sam telah berubah.
jessica terus mencoba menghubungi sam di sela-sela kesibukannya hanya untuk mengetahui apakah kekasihnya itu mau untuk berbicara hanya beberapa menit saja namun yang terdengar hanya kotak pesan sam.
"hai aku sedang keluar,,, jika ada yang ingin dibicarakan tunggu sampai bunyi biiiiip" jessica hanya menarik nafas panjang,,
"sam aku ingin bertemu,,, bisakah ? jika tidak bisa , tidak apa-apa, lagipun ini tidak terlalu penting di tempat biasa jam 7 malam, aku tunggu kabar darimu." jessica langsung mentup hpnya dan memasukkannya ke dalam tasnya.
sam masih belum membalas pesan jessica dan dipikirannya sudah ada setan yang berbisik, apakah dia selingkuh.? apakah dia sudah tidak ingin bersamaku lagi?. tak lama handphonenya berbunyi tertera nama sam yang memanggilnya, jessica langsung mengangkat telepon sam dengan semangatnya.
"hallo hmmm jess.. gimana kalau besok aja soalnya aku lagi sibuk banget nanti juga ada meeting gimana ? gak papa kan ?" terdengar suara sam yang cepat seperti kereta api.
jessica kecewa dengan sikap sam ia langsung menutup telepon dan otomatis pembicaraan mereka terputus jessica hanya bisa mengerutkan dahinya dan cemberut duduk di sudut ruangan kantornya, tiba-tiba saja seorang pelayan menggubrak pintu kantor jessica sambil menangis.
"ada apa blaire , kenapa kau menangis ?" pelayan tampak sangat berantakan rambutnya acak-acakan seperti telah diterkam harimau ganas, ia langsung bersembunyi di bawah meja jessica sambil memeluk kedua lututnya.
"DIMANA WANITA JALANG ITU," terdengar suara wanita yang memasuki ruangan jessica tak lama setelah pelayan itu.
"tenanglah nyonya, ada yang bisa saya bantu." wanita itu langsung mengarahkan matanya ke arah jessica.
"di mana wanita jalang yang kau sembunyikan itu." ia melihat ke seluruh ruangan tapi tak melihat pelayan tadi.
"ada apa sebenarnya nyonya." jessica langsung mengajak wanita itu keluar tapi ia tidak mau ia malah memutari meja kerja jessica dan menemukan blaire yang tengah meringkuk ketakutan disana.
"disini kau rupanya." dia pun menarik kerah baju blaire dan ingin menamparnya.
tapi jessica dengan sigap menangkap tangan wanita itu dan menahan kedua tangannya,
"apa yang akan kau lakukan padanya? " jessica menyuruh pelayan itu keluar dari kantornya.
"wanita itu telah menggoda suamiku. pantas saja suamiku suka bertahan disini, karena ia menemukan wanita gila itu." wanita itu bersikeras ingin melepaskan tangannya.
"yang seharusnya disebut gila itu adalah anda,, anda tiba-tiba datang dan ingin membunuh salah satu pelayanku. bukankah hal yang seharusnya anda lakukan adalah berdandan lebih sexy daripada pelayan disini.agar suami anda betah dirumah, lagipula suami anda yang kegenitan, lebih baik anda jaga suami dan kelakuan anda , dan tolong keluar dari restaurant ini, atau saya panggil polisi." jessica masih menggenggam kedua tangan wanita paruh baya itu dengan sangat kencang.
"baiklah -baiklah tapi lepaskan aku. " mendengar hal ini jessica pun melepaskan kedua tangan wanita itu . tapi wanita itu mengambil botol kaca dan bermaksud memukul kepala jessika yang tengah membelakanginya.
"dasar kau !!!!!!!" jessica membalikkan badannya dan melihat tangan wanita itu di pegang oleh seseorang dari belakang dan mengambil tangan yang lainnya dan ia pun menjatuhkan botol kaca itu.
"SAM !" jessica melihat sam yang tengah bersikeras menahan kedua tangan wanita itu dan ada dua orang polisi yang datang dan langsung memborgolnya.
sam langsung memeluk jessica dengan erat, jessica juga tidak percaya kalau yang selama ini sam begitu sibuk, tiba-tiba ada di depannya dan memeluknya dengan erat.
"syukurlah kau tidak apa-apa.. " san terus memeluk jessica,
"aku ketakutan sam." jessica terus memeluk sam dan tiba-tiba tubuhnya bergetar, keringat mengucur deras, dan jessica tak bisa membendungnya lagi ia pingsan tepat di pelukan sam.
jessica mencoba membuka matanya yang berat itu ia melihat sam tengah memegang tangan kanannya dan ia tengah ada di sofa panjang di kantornya.
"sam ?" sam langsung mencium kening jessica.
jessicapun melihat sekelilingnya dan melihat banyak pelayannya menungguinya.
"kenapa kalian ..... tidak bekerja ?" jessica melihat mereka semua dengan mata yang masih sayu.
"anda adalah atasan yang baik . kami ingin terus bersama anda. kami sangat khawatir sampai-sampai kami menutup restoran." kata seorang chef berbadan agak gemuk.
"maafkan saya, saya sudah menyuruh pria itu pulang tapi dia tidak mau ia selalu ingin saya yang melayani setiap ia makan disini. jika saya tidak melayaninya, ketika pulang ia akan menemui saya dan mengancam, saya sangat ketakutan." blaire pun menangis dan tertunduk di depan jessica.
"tapi tenang saja kau sudah aman dia sudah ditangkap kan ?" jessica mencoba menghibur blaire. dan itu berhasil blaire pun tersenyum tapi masih terduduk diam.
"kau sam ? bukannya kau ada meeting." jessica mencoba bangun dan dibantu oleh sam.
"sebenarnya meeting itu sudah ku cancel , kau tau kenapa aku selalu sibuk ? aku menabung untuk membeli ini." sam pun mengeluarkan kotak dari sakunya.
"jessica ,,,, aku merasa bersalah setiap kali kau telfon pasti aku sibuk, aku merasa bersalah karena aku tidak ada untukmu tapi aku sangat mencintaimu dan saat kau menutup telepon secara tiba-tiba aku langsung kemari. dan aku ingin kau bersamaku selamanya jessica, maukah kau menikah denganku, aku tau mungkin kau membenciku tapi ....." jessica pun mengarahkan telunjuknya ke mulut sam.
"tidak sam,,,, aku tidak membencimu,,, memang kadang-kadang, tapi .... perasaanku sama denganmu. aku juga sangat mencintaimu sam. dan aku bersedia menjadi pengantinmu" jessica langsung memeluk sam. ia tak menyangka hal ini akan terjadi padanya.
sam benar kesibukan yang selama ini dijalaninya hanya untuk jessica. jessica tak bisa menahan senyumnya yang merekah. bahkan matanya yang sayu kini berubah sangat cerah.
jessica tak menyangka sam membelikannya cincin yang langsung disematkan ke jari manisnya.
"kau suka...?" sam hanya tersenyum kepada jessica.
"kau gila ? aku sangat menyukainya." jessica langsung mencium sam didepan semua orang bahkan ada yang menutup matanya.
-the end-
jessica termenung membaca sms dari sam kekasihnya, ia masih merasa kalau sam terlalu sibuk walau hanya untuk sekedar berbicara padanya, setiap kali sam mengirimkan sms jessica langsung menelfonnya dan selalu saja hp sam sibuk. sam selalu bilang kalau yang ia lakukan di tempat kerja itu untuk mereka berdua tapi tetap saja jessica merasa kalau ia tak pernah diperhatikan.
jessica pergi ke restoran ditempat ia bekerja sebagai manager, ia masih kepikiran dengan kelakuan sam akhir-akhir ini, ia masih bisa mengingat saat SMA Sam berlari hujan-hujanan hanya untuk menembak jessica, apakah hanya sampai disitu keromantisan yang ia miliki ? jessica tak pernah menaruh curiga pada sam tapi yang jelas sam telah berubah.
jessica terus mencoba menghubungi sam di sela-sela kesibukannya hanya untuk mengetahui apakah kekasihnya itu mau untuk berbicara hanya beberapa menit saja namun yang terdengar hanya kotak pesan sam.
"hai aku sedang keluar,,, jika ada yang ingin dibicarakan tunggu sampai bunyi biiiiip" jessica hanya menarik nafas panjang,,
"sam aku ingin bertemu,,, bisakah ? jika tidak bisa , tidak apa-apa, lagipun ini tidak terlalu penting di tempat biasa jam 7 malam, aku tunggu kabar darimu." jessica langsung mentup hpnya dan memasukkannya ke dalam tasnya.
sam masih belum membalas pesan jessica dan dipikirannya sudah ada setan yang berbisik, apakah dia selingkuh.? apakah dia sudah tidak ingin bersamaku lagi?. tak lama handphonenya berbunyi tertera nama sam yang memanggilnya, jessica langsung mengangkat telepon sam dengan semangatnya.
"hallo hmmm jess.. gimana kalau besok aja soalnya aku lagi sibuk banget nanti juga ada meeting gimana ? gak papa kan ?" terdengar suara sam yang cepat seperti kereta api.
jessica kecewa dengan sikap sam ia langsung menutup telepon dan otomatis pembicaraan mereka terputus jessica hanya bisa mengerutkan dahinya dan cemberut duduk di sudut ruangan kantornya, tiba-tiba saja seorang pelayan menggubrak pintu kantor jessica sambil menangis.
"ada apa blaire , kenapa kau menangis ?" pelayan tampak sangat berantakan rambutnya acak-acakan seperti telah diterkam harimau ganas, ia langsung bersembunyi di bawah meja jessica sambil memeluk kedua lututnya.
"DIMANA WANITA JALANG ITU," terdengar suara wanita yang memasuki ruangan jessica tak lama setelah pelayan itu.
"tenanglah nyonya, ada yang bisa saya bantu." wanita itu langsung mengarahkan matanya ke arah jessica.
"di mana wanita jalang yang kau sembunyikan itu." ia melihat ke seluruh ruangan tapi tak melihat pelayan tadi.
"ada apa sebenarnya nyonya." jessica langsung mengajak wanita itu keluar tapi ia tidak mau ia malah memutari meja kerja jessica dan menemukan blaire yang tengah meringkuk ketakutan disana.
"disini kau rupanya." dia pun menarik kerah baju blaire dan ingin menamparnya.
tapi jessica dengan sigap menangkap tangan wanita itu dan menahan kedua tangannya,
"apa yang akan kau lakukan padanya? " jessica menyuruh pelayan itu keluar dari kantornya.
"wanita itu telah menggoda suamiku. pantas saja suamiku suka bertahan disini, karena ia menemukan wanita gila itu." wanita itu bersikeras ingin melepaskan tangannya.
"yang seharusnya disebut gila itu adalah anda,, anda tiba-tiba datang dan ingin membunuh salah satu pelayanku. bukankah hal yang seharusnya anda lakukan adalah berdandan lebih sexy daripada pelayan disini.agar suami anda betah dirumah, lagipula suami anda yang kegenitan, lebih baik anda jaga suami dan kelakuan anda , dan tolong keluar dari restaurant ini, atau saya panggil polisi." jessica masih menggenggam kedua tangan wanita paruh baya itu dengan sangat kencang.
"baiklah -baiklah tapi lepaskan aku. " mendengar hal ini jessica pun melepaskan kedua tangan wanita itu . tapi wanita itu mengambil botol kaca dan bermaksud memukul kepala jessika yang tengah membelakanginya.
"dasar kau !!!!!!!" jessica membalikkan badannya dan melihat tangan wanita itu di pegang oleh seseorang dari belakang dan mengambil tangan yang lainnya dan ia pun menjatuhkan botol kaca itu.
"SAM !" jessica melihat sam yang tengah bersikeras menahan kedua tangan wanita itu dan ada dua orang polisi yang datang dan langsung memborgolnya.
sam langsung memeluk jessica dengan erat, jessica juga tidak percaya kalau yang selama ini sam begitu sibuk, tiba-tiba ada di depannya dan memeluknya dengan erat.
"syukurlah kau tidak apa-apa.. " san terus memeluk jessica,
"aku ketakutan sam." jessica terus memeluk sam dan tiba-tiba tubuhnya bergetar, keringat mengucur deras, dan jessica tak bisa membendungnya lagi ia pingsan tepat di pelukan sam.
jessica mencoba membuka matanya yang berat itu ia melihat sam tengah memegang tangan kanannya dan ia tengah ada di sofa panjang di kantornya.
"sam ?" sam langsung mencium kening jessica.
jessicapun melihat sekelilingnya dan melihat banyak pelayannya menungguinya.
"kenapa kalian ..... tidak bekerja ?" jessica melihat mereka semua dengan mata yang masih sayu.
"anda adalah atasan yang baik . kami ingin terus bersama anda. kami sangat khawatir sampai-sampai kami menutup restoran." kata seorang chef berbadan agak gemuk.
"maafkan saya, saya sudah menyuruh pria itu pulang tapi dia tidak mau ia selalu ingin saya yang melayani setiap ia makan disini. jika saya tidak melayaninya, ketika pulang ia akan menemui saya dan mengancam, saya sangat ketakutan." blaire pun menangis dan tertunduk di depan jessica.
"tapi tenang saja kau sudah aman dia sudah ditangkap kan ?" jessica mencoba menghibur blaire. dan itu berhasil blaire pun tersenyum tapi masih terduduk diam.
"kau sam ? bukannya kau ada meeting." jessica mencoba bangun dan dibantu oleh sam.
"sebenarnya meeting itu sudah ku cancel , kau tau kenapa aku selalu sibuk ? aku menabung untuk membeli ini." sam pun mengeluarkan kotak dari sakunya.
"jessica ,,,, aku merasa bersalah setiap kali kau telfon pasti aku sibuk, aku merasa bersalah karena aku tidak ada untukmu tapi aku sangat mencintaimu dan saat kau menutup telepon secara tiba-tiba aku langsung kemari. dan aku ingin kau bersamaku selamanya jessica, maukah kau menikah denganku, aku tau mungkin kau membenciku tapi ....." jessica pun mengarahkan telunjuknya ke mulut sam.
"tidak sam,,,, aku tidak membencimu,,, memang kadang-kadang, tapi .... perasaanku sama denganmu. aku juga sangat mencintaimu sam. dan aku bersedia menjadi pengantinmu" jessica langsung memeluk sam. ia tak menyangka hal ini akan terjadi padanya.
sam benar kesibukan yang selama ini dijalaninya hanya untuk jessica. jessica tak bisa menahan senyumnya yang merekah. bahkan matanya yang sayu kini berubah sangat cerah.
jessica tak menyangka sam membelikannya cincin yang langsung disematkan ke jari manisnya.
"kau suka...?" sam hanya tersenyum kepada jessica.
"kau gila ? aku sangat menyukainya." jessica langsung mencium sam didepan semua orang bahkan ada yang menutup matanya.
-the end-
Langganan:
Postingan (Atom)