sakuranya sudah layu.
tidak terasa ami berada di korea sudah 3 hari ia juga tidak bertemu eiji .setiap eiji menelfon ami, ami selalu menolaknya. ia pun mulai dengan cerpennya yang baru, ia ingin melupakan apa yang terjadi. ami selalu bersama mizuki dan ryou . walaupun ryou adalah kakak panitia tapi dia selalu menjaga mizuki dan ami walaupun terkadang lebih dekat dengan mizuki.
"ami chan jangan sampai ada yang tertinggal." mizuki datang dan memasukkan botol-botol.
"ini botol apa mizuki chan ?" mizuki chan langsung membekap mulut ami.
"ini shamppo gratis hihihihi.?" ami langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
"tidak ada kabar dari eiji - sama" ami langsung terdiam dan tiak menjawab pertanyaan mizuki.
"oh .... aku mengerti." tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
"ryou kun ada apa? " mizuki tanpak berbicara pada ryou dan sesekali melihat ami.
"ami aku dan ryou-kun pergi untuk mencari oleh-oleh ya......." ami hanya mengangguk dan memulai mengepack barangnya.
tidak beberapa lama ami terus mengepack barangnya.
"kau akan pulang ?" ami langsung berdiri tanpa memalingkan badannya ia merasa tidak asing dengan suara itu.
"ayolah...lihat aku.. mungkin inilah terakhir kalinya kau melihatku" suara itu semakin mendekat dan tangan yang ami tidak ingin lihat sudah melingkar di badannya.
"lepaskan eiji-kun." ami bahkan tidak melihat wajahnya.
"aku sudah minta maaf kan ? apa kau tidak mencintaiku lagi ?" ami pun berbalik badan.
"kau sudah bersama eunjo lalu apa pentingnya aku bagimu." ami pun mulai menangis dan eiji tak tau apa yang ami bicarakan.
"apa maksudmu dia hanya sahabatku ." ami pun menampar eiji dengan sangat keras.
"di depanku kau bilang dia sahabatmu tapi di belakangku kau begitu mesra dan menganggap dia kekasihmu, apa yang kau coba lakukan eiji.... biarkan aku sendiri."
eiji tampak bingung dengan apa yang terjadi bahkan ia hanya diam dan mengelus pipinya yang sakit . ami tidak pernah marah seperti ini.
"kau seperti maruko chan ami" eiji tersenyum dan melupakan rasa sakit yang ada di pipinya.
"eunjo itu adalah sahabatku kau mungkin salah paham saat dia bilang boyfriend kan ?" eiji pun mulai cerita semuanya.
*bersambung*
Senin, 05 Oktober 2015
Minggu, 04 Oktober 2015
sakuranya sudah layu
-isi boxnya ?-
"waaaahhh. ini..... aku tidak tau ini apa,,,, kau tau ini apa ami chan.?" mizuki melihat dengan seksama isi kotak itu, tapi sikap nya berbeda dengan ami dia mengambil isinya dan membuangnya ke lantai.
"itu sakura yang sudah layu........dasar pria itu menyebalkan setidaknya jika ingin mengirim sesuatu kirimlah yang segar ehh malah layu. aku akan mengejarnya." ryou pun dengan semangat langsung membalikkan badannya tapi ami menghentikannya.
"kenapa ami, biarkan saja ryou-kun mengejarnya dia itu orang gila."
"lihatlah ini," ami pun mengambil kotak panjang dan memperlihatkan nya,
"waahhh ini juga sakura yang sudah layu." mizuki tercengang dengan apa yang dilihatnya.
"jadi apa maksud dari semua ini? " ryou pun menggaruk-garuk kepalanya karena tak mengerti.
"hei hei.... ada suratnya...." mizuki memberi kertas itu.
-isi boxnya ?-
"waaaahhh. ini..... aku tidak tau ini apa,,,, kau tau ini apa ami chan.?" mizuki melihat dengan seksama isi kotak itu, tapi sikap nya berbeda dengan ami dia mengambil isinya dan membuangnya ke lantai.
"itu sakura yang sudah layu........dasar pria itu menyebalkan setidaknya jika ingin mengirim sesuatu kirimlah yang segar ehh malah layu. aku akan mengejarnya." ryou pun dengan semangat langsung membalikkan badannya tapi ami menghentikannya.
"kenapa ami, biarkan saja ryou-kun mengejarnya dia itu orang gila."
"lihatlah ini," ami pun mengambil kotak panjang dan memperlihatkan nya,
"waahhh ini juga sakura yang sudah layu." mizuki tercengang dengan apa yang dilihatnya.
"jadi apa maksud dari semua ini? " ryou pun menggaruk-garuk kepalanya karena tak mengerti.
"hei hei.... ada suratnya...." mizuki memberi kertas itu.
dear ami chan.
hai ami,,,...!
mungkin agak sedikit aneh aku kirim ini, itu karena aku terlalu takut mendengar suaramu jika kau marah. aku tau aku seharusnya tidak melakukan yang tadi, tapi kumohon maafkan aku. aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, kau ingat saat kita piknik , aku memberimu bunga sakura kan ? apa kau masih menyimpannya ? kurasa kau sudah mencabik-cabiknya sekarang ya......
aku tau kau masih marah, ataupun sedih, tapi... jujur aku tidak bermaksud untuk begitu....
kau memaafkan aku kan ? kau masih ingat saat aku memanggilmu crybaby saat aku memasukkan serangga ke dalam bantalmu.? kau berteriak histeris dan memelukku dan pada saat kau tau akulah yang memasukkannya kau menamparku dan seperti itu sakit yang kurasakan saat kau menangis, aku sangat sedih aku masih ingat wajahmu memerah....
ami...... aku tidak membencimu,, hanya saja,,, aku sangat mencintaimu.. setiap hari aku tersiksa tidak bertemu denganmu....
aku..... mencintaimu ami,,,
kaulah kekasihku,,,,
saat kau bertanya tadi... aku sudah feeling kau merasa sakit saat aku bilang aku sudah punya kekasih.
tapi maksudku adalah kau....
hanya kau kekasihku,, hanya kau yang akan kunikahi ami bukan yang lain.
takahashi eiji.
"AKU TIDAK MENGERTI !!!!!" ami pun merobek-robek kertas itu dan melemparkannya ke lantai
"dasar lelaki.... pasti dia ingin menduakan mu lagi." mizuki pun melihat ryou.
"hei !! aku bukan lelaki seperti itu...." ryou pun berkacak pinggang di depan mizuki.
"semua lelaki sama saja." mizuki pun mencemberutkan bibirnya.
"hei memangnya wanita tidak begitu." mereka saling balas argumen.
"tentu saja tidak" mizuki semakin memonyongkan bibirnya.
"huh ! dasar wanita sukanya berargumen." mizuki melirik panas ryou.
"dasar kau yang pertama memulainya." melihat pertengkaran mereka seperti kucing dan anjing dan ami hanya menyunggingkan senyum kecil.
"sudah-sudah ! aku tidak jadi menangis gara-gara kalian" mizuki dan ryou mendadak berhenti melihat ami tertawa. mereka pun jadi salah tingkah dan memalingkan wajah satu sama lain.
-bersambung-
Sabtu, 03 Oktober 2015
-sakuranya sudah layu-
*benci*
ami menangis di sepanjang jalan menuju hotel dia merasa sedih tak terkendali. dia pun mengambil ponselnya dan menelpon mizuki agar menyuruh panitia menjemputnya mendengar suara ami yang tersedu-sedu akhirnya mizuki mengajak salah satu panitia terpercaya yang tidak akan memberitahukan siapa-siapa kalau ami pergi bersama dengan orang lain.
ami terduduk di depan toko bunga, sambil menghapus air matanya, tidak berapa lama ada taksi yang berhenti di depannya dan keluarlah mizuki dan ryou kakak panitianya, ami pun berlari ke arah mereka sambil menangis dan memeluk mizuki.
"mizuki chan.....hiks.... mizuki chan..." mizuki hanya bisa mengelus-elus pundak ami dan memandang aneh ke arah ryou
di dalam taxi pun ami masih melamun ke arah jendela taxi, dan sesekali menghembuskan nafasnya seperti orang yang tengah sesak nafas.
mereka pun sampai di hotel. ami langsung masuk ke dalam hotel tanpa mengucapkan sepatahkata pun pada mizuki dan ryou.
"mizuki chan.... ami chan pergi dengan siapa?" ryou langsung berkacak pinggang melihat sikap aneh ami.
"entahlah senpai tapi yang jelas dia seorang lelaki apa jangan-jangan...." mereka dua langsung beradu pandang. memikirkan hal hal aneh di kepala masing-masing.
"eunjo-si bisa datang sebentar..... " eiji menelfon eunjo sambil memegang kepalanya yang sangat sakit.
"ada apa eiji... ada yang salah ?" eunjo tampak terkejut dengan perubahan suara aneh eiji saat ini.
"baiklah aku akan kesana.!" eunjo langsung menuju tempat yang dikatakan oleh eiji.
eiji pun merasa sangat bersalah kepada ami, kalau saja ia tidak mabuk.,,, kalau saja ia tidak mengigau yang aneh-aneh.
"sialan kau eiji,,,, kau seharusnya dengarkan ami..." eiji hanya bisa mengutuk dirinya sendiri.
tidak berapa lama eunjo sudah datang dan langsung duduk di samping eiji.
"kau minum ya ?" eunjo langsung bisa mencium aroma soju di tubuh eiji.
"dan itu adalah kesalahan" eiji langsung mengacak-acak rambutnya.
"maksudmu apa ?" aiji langsung menarik nafas panjang. dan hampir saja menangis dan ia pun menahan airmatanya.
"aku.. mengatakan hal aneh dan ami membenciku sekarang" eunjo hanya berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"padahal sudah begitu dekat.... aku sudah bisa mencium aroma parfum yang biasa dipakainya. tapi .. AKHHHHHH seharusnya aku mendengarkannya untuk tidak minum ,,," eunjo hanya tersenyum.
"mari ku antar kau pulang kepalamu pasti sakit" eiji hanya mengangguk dan mengikuti eunjo.
"ami chan.....?" mizuki menghampiri ami yang tengah berbaring berselimut di seluruh tubuhnya.
"ami chan ?.... jika ada masalah bercerita lah..... aku kan temanmu." mizuki pun membuka sedikit selimut di kepala ami.
"dia berubah mizuki chan..." perlahan tapi pasti air mata ami mengucur. dan suaranya semakin berat.
"dia.....dia..... membenciku mizuki.....dia minum....dia berubah....." suara ami semakin serak dan matanya semakin merah.
"sudahlah... ayo kita makan malam dulu....." ami pun bangkit dan mengusap air matanya tiba-tiba ryou datang membawa sebuah kotak.
"ami chan ?" ami pun berbalik dan melihat ryou mendekat dan menyodorkan kotak itu.
"ada seorang pria dan wanita memberikan ini , " ami pun menaikkan sebelah alisnya dan melihat mizuki.
"sudah .... ambil saja...." mizuki pun mengambil kotak itu dan memberikannya pada ami.
-bersambung-
*benci*
ami menangis di sepanjang jalan menuju hotel dia merasa sedih tak terkendali. dia pun mengambil ponselnya dan menelpon mizuki agar menyuruh panitia menjemputnya mendengar suara ami yang tersedu-sedu akhirnya mizuki mengajak salah satu panitia terpercaya yang tidak akan memberitahukan siapa-siapa kalau ami pergi bersama dengan orang lain.
ami terduduk di depan toko bunga, sambil menghapus air matanya, tidak berapa lama ada taksi yang berhenti di depannya dan keluarlah mizuki dan ryou kakak panitianya, ami pun berlari ke arah mereka sambil menangis dan memeluk mizuki.
"mizuki chan.....hiks.... mizuki chan..." mizuki hanya bisa mengelus-elus pundak ami dan memandang aneh ke arah ryou
di dalam taxi pun ami masih melamun ke arah jendela taxi, dan sesekali menghembuskan nafasnya seperti orang yang tengah sesak nafas.
mereka pun sampai di hotel. ami langsung masuk ke dalam hotel tanpa mengucapkan sepatahkata pun pada mizuki dan ryou.
"mizuki chan.... ami chan pergi dengan siapa?" ryou langsung berkacak pinggang melihat sikap aneh ami.
"entahlah senpai tapi yang jelas dia seorang lelaki apa jangan-jangan...." mereka dua langsung beradu pandang. memikirkan hal hal aneh di kepala masing-masing.
"eunjo-si bisa datang sebentar..... " eiji menelfon eunjo sambil memegang kepalanya yang sangat sakit.
"ada apa eiji... ada yang salah ?" eunjo tampak terkejut dengan perubahan suara aneh eiji saat ini.
"baiklah aku akan kesana.!" eunjo langsung menuju tempat yang dikatakan oleh eiji.
eiji pun merasa sangat bersalah kepada ami, kalau saja ia tidak mabuk.,,, kalau saja ia tidak mengigau yang aneh-aneh.
"sialan kau eiji,,,, kau seharusnya dengarkan ami..." eiji hanya bisa mengutuk dirinya sendiri.
tidak berapa lama eunjo sudah datang dan langsung duduk di samping eiji.
"kau minum ya ?" eunjo langsung bisa mencium aroma soju di tubuh eiji.
"dan itu adalah kesalahan" eiji langsung mengacak-acak rambutnya.
"maksudmu apa ?" aiji langsung menarik nafas panjang. dan hampir saja menangis dan ia pun menahan airmatanya.
"aku.. mengatakan hal aneh dan ami membenciku sekarang" eunjo hanya berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"padahal sudah begitu dekat.... aku sudah bisa mencium aroma parfum yang biasa dipakainya. tapi .. AKHHHHHH seharusnya aku mendengarkannya untuk tidak minum ,,," eunjo hanya tersenyum.
"mari ku antar kau pulang kepalamu pasti sakit" eiji hanya mengangguk dan mengikuti eunjo.
"ami chan.....?" mizuki menghampiri ami yang tengah berbaring berselimut di seluruh tubuhnya.
"ami chan ?.... jika ada masalah bercerita lah..... aku kan temanmu." mizuki pun membuka sedikit selimut di kepala ami.
"dia berubah mizuki chan..." perlahan tapi pasti air mata ami mengucur. dan suaranya semakin berat.
"dia.....dia..... membenciku mizuki.....dia minum....dia berubah....." suara ami semakin serak dan matanya semakin merah.
"sudahlah... ayo kita makan malam dulu....." ami pun bangkit dan mengusap air matanya tiba-tiba ryou datang membawa sebuah kotak.
"ami chan ?" ami pun berbalik dan melihat ryou mendekat dan menyodorkan kotak itu.
"ada seorang pria dan wanita memberikan ini , " ami pun menaikkan sebelah alisnya dan melihat mizuki.
"sudah .... ambil saja...." mizuki pun mengambil kotak itu dan memberikannya pada ami.
-bersambung-
sakuranya sudah layu.
-perubahan drastis.-
*bicara bahasa inggris*
"maaf ya .... kau sudah lama menunggu ya......" eiji menggaruk-garuk kepalanya sendiri.
"eh ami .... kalian saling kenal kenapa tadi kau tidak lihat ami eiji ,, dan kau ami aku bahkan ingin mengenalkanmu pada eiji kau malah pergi" eunjo semakin mengeratkan tangannya di tangan eiji.
aangan mereka.
ami terus-terusan melihat tangan eunjo dan eiji. seakan mengerti eiji salah tingkah dan melepaskan kedua tangannya dan eunjo.
"baiklah eiji aku pergi dulu ya aku masih ada urusan. sampai nanti ami-si" ami hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.
*bicara bahasa jepang*
"baiklah aku akan ajak kau jalan-jalan. disini banyak masakan yang enak loo. mau coba?" eiji pun menatap wajah ami yang hanya berkerut saja.
"naze desuka (ada apa?)" eiji melihat wajah ami.
"nani mo (tidak ada apa-apa)" ami sedikit tersenyum, untuk menutupi kekesalannya.
mereka pun tiba di restoran belut bakar, mereka pun duduk disana ami sudah malas bicara dan eiji hanya tersenyum melihat ami.
*bahasa jepang*
"kenapa ami ? aku tau kau sedang kesal, katakan saja ?" eiji pun memonyongkan mulutnya.
"apa kau punya kekasih" eiji pun menaikkan sebelah alisnya
"tentu saja !" eiji pun melihat ami yang sudah cemberut sedari tadi.
"wahhh makanan kita sudah datang tolong sojunya dua botol" eiji pun menaikkan dua jarinya.
"kau sudah ahli berbahasa korea." ami pun memakan belutnya dengan chopstick
"pertama kali datang ke sini masih tidak bisa , tapi ada yang mengajarkanku." eiji pun tersenyum.
"eunjo ?,,,,," eiji hanya menganggung sambil tersenyum tipis.
"aku bertemu dia di bandara, dia orangnya sangat periang, bahkan kami baru kenal dia sudah mengajakku jalan-jalan.oh iya selamat ya ! kamu memenangkan lomba itu." eiji pun mengambil sesuatu dari tasnya.
"ini hadiah karena kau telah menang memang tak seberapa tapi.... buka sajalah." ami pun membuka kotak kecil yang diberikan eiji gelang yang memiliki banyak ornamen ada bunga sakura ada kue manju sepatu roda. dan botol minuman dan belut.
"lihat bunga sakura ini.... kita berpiknik dibawahnya. kalau sepatu roda... kau yang mengajariku kan ?ang kue manju yang kau buat juga enak. saat olahraga lari kau tak pernah lepas dari air mineral. dan sekarang kita makan belut. kau suka ?" eiji menjelaskan cerita ornamen itu.
" ini pasti mahal.... lagipun mana ada yang bertepatan seperti itu" ami pun mengusap gelang itu.
"aku dan eunjo yang memesannya. memang agak mahal. tapi untukmu apa yang tidak." eiji pun meminum soju dan ami langsung menarik gelasnya dari tangan eiji.
"kau tidak boleh minum, sejak kapan kau minum ?" eiji mengambil kembali gelas yang ditangan ami.
"tenang saja aku tidak akan mabuk..." ami terus-terusan melihat eiji minum tanpa bisa melarangnya lagi.
entah berapa gelas yang diminum eiji tiba-tiba saja eiji terdiam, dai tidak cerewet lagi seperti yang tadi.
"eiji..... ayo kita pulang saja...." ami mengguncangkan badan eiji.
"eiji jangan bercanda kau tidak mabuk kan ? aku tidak bisa mengangkatmu." ami terus mengguncangkan tubuh eiji.
tiba-tiba saja eiji tertawa keras dan memegang kedua pipi ami.
"kau tidak tau kan.... aku sangat senang hari ini..........." pipi ami mendadak memerah.
"kau tidak tau aku sangat merindukanmu... aku merindukan saat kau tertawa. membuat lelucon.........tapi, kenapa kau jarang menghubungiku tatap muka." eiji terlihat sangat mabuk.
"kau bicara apa eiji. aku selalu......" perkataan ami terpotong saat jari telunjuk eiji menutup mulutnya.
"shhhhhh shhhh, aku dulu yang bicara." ini bukan eiji,,,, dia benar-benar mabuk.
"aku membencimu karena kau jarang menghubungiku. dan aku tau KAU ADA DISANA SAAT AKU BERMAIN TENNIS aku ada disana ami...... tapi kau pergi.... AKU MEMBENCIMU." mata eiji terlihat sayu.
"kau bukan eiji...." ami pun mendorong eiji dan kepala eiji terbentur ke dinding.
"AUUUUCHHH" eiji melihat ami yang sudah menangis.
"ami......." eiji mencoba menggenggam tangan ami.
"tidak eiji.... kau sudah berubah..... kau sangat membenciku." ami pun mundur dan mengambil tasnya.
"tunggu AMI... TUNGGU !" Ami sudah pergi. melewati pintu ruangan mereka. dan hanya tinggal eiji.
*bersambung*
Kamis, 01 Oktober 2015
sakuranya sudah layu.
*aku sudah menyerah*
kini ami merasa sangat tak enak, ia meninggalkan eunjo tanpa mengobrol lebih lama. tapi melihat wajah eiji juga ami tidak bisa. apapun yang dilakukannya selalu serba salah, dia terus menerus memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. ia terus berjalan dia area kampus itu bersama salah satu teman segroup nya.
"sekolah ini indah sekali benarkan ami ?" gadis itu berbalik melihat ami yang masih berjalan sambil melamun tiba-tiba gadis itu berhenti dan membiarkan ami berjalan sendiri kedepan, tanpa menghiraukan gadis itu ami terus berjalan.
tiba-tiba ami melihat ke kanan dan ke kiri ternyata temannya sudha tidak ada.
"ami !!" gadis itu berteriak dan ami berbalik dan tersenyum
"kenapa berhenti mizuki ?" ami pun menghampiri mizuku yang melipat kedua tangannya
" kau melamun lagi ?" mizuki menaikkan sebelah alisnya dan manatap aneh pada ami.
"tidak hanya saja....tidak ada" ami pun menarik tangan mizuki.
"Mari lanjutkan!" mereka pun mengarungi lorong demi lorong kampus
mereka sampai di taman kampus banyak mahasiswa korea yang sedang asyik berbincang entah apa yang mereka bincangkan. ada yang berkelompok dan sendirian. ami dan mizuki terus berjalan. wajah orang jepang tentu saja berbeda dengan korea jadi terkadang mereka menjadi bahan pembicaraan.
mereka pun duduk di rumput hijau di dekat pohon besar mereka. pun berbincang, bahkan sesekali tertawa.
"kau sudah dapat bahan mu...?'" mizuki pun mengeluarkan botol air dari tasnya.
"hmmm......sepertinya sudah..." ami pun menerima air yang diberikan mizuki
"cepat sekali aku saja belum...." ami pun mendengar ponselnya berdering dan melihat nama yang memanggilnya itu adalah eiji.
"moshi-moshi ?(hallo)" ami menarik nafasnya panjang.
"hei kudengar ada tur di kampusku, apa kau ikut ? oh iya kau menang kan. pasti kau ikut." eiji tampak tidak sabar menunggu jawaban ami.
"ti....tidak... maksudku iya... tapi..." belum selesai ami bicara
"bagus,,, aku akan temui kau di gerbang sekolah ini jam 4 nanti bisa kan ?"
"akan kuusahakan tapi tak janji." ami kembali menarik nafasnya panjang.
"kau kenapa ami,, kau tidak merindukan ku ?"
"tentu saja, tapi aku terlalu sibuk eiji-kun " ami pun menitikkan air matanya.
"baik datang atau tidak akan kutunggu."
ami pun menutup ponselnya dan mengusap air matanya.
"kenapa sedih?" mizuki pun memberikan sapu tangannya.
"itulah aku takutkan mizuki-chan. aku terlalu takut untuk bertemu" ami pun mengusap lagi air matanya.
"katakan saja yang sejujurnya padanya agar masalahnya selesai. " ami pun tersenyum dan mulai menceritakan kejadian yang dialaminya.
"wow kau harus menemuinya ami" mizuki pun melihat jamnya.
"hei sudah jam 03.50 ayo cepat kita akan bertemu di hotel akan kujelaskan pada panitianya mereka pasti akan mengerti" mizuki pun melambaikan tangannya dan pergi menuju kelompoknya.
ami pun menunggu eiji di gerbang dijamnya menunjuk sudha pukul 4 ami terus menunggu dan menunggu bahkan sudah lewat 40 menit.
"ya tuhan sudah hampir satu jam dia belum datang." ami pun terus berjalan ke sana-kemari.
"AMI !!! maaf ya aku terlambat"
ami tersenyum ia melihat tangan eiji ada yang menggenggam dia melihat tangan siapa itu dan tangan itu adalah milik eunjo teman koreanya sendiri.
ami perlahan menghapus senyumannya dan merasa kalau ini sudah berakhir dan ia menyerah sudah ,,,, inilah finalnya.
-bersambung-
*aku sudah menyerah*
kini ami merasa sangat tak enak, ia meninggalkan eunjo tanpa mengobrol lebih lama. tapi melihat wajah eiji juga ami tidak bisa. apapun yang dilakukannya selalu serba salah, dia terus menerus memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. ia terus berjalan dia area kampus itu bersama salah satu teman segroup nya.
"sekolah ini indah sekali benarkan ami ?" gadis itu berbalik melihat ami yang masih berjalan sambil melamun tiba-tiba gadis itu berhenti dan membiarkan ami berjalan sendiri kedepan, tanpa menghiraukan gadis itu ami terus berjalan.
tiba-tiba ami melihat ke kanan dan ke kiri ternyata temannya sudha tidak ada.
"ami !!" gadis itu berteriak dan ami berbalik dan tersenyum
"kenapa berhenti mizuki ?" ami pun menghampiri mizuku yang melipat kedua tangannya
" kau melamun lagi ?" mizuki menaikkan sebelah alisnya dan manatap aneh pada ami.
"tidak hanya saja....tidak ada" ami pun menarik tangan mizuki.
"Mari lanjutkan!" mereka pun mengarungi lorong demi lorong kampus
mereka sampai di taman kampus banyak mahasiswa korea yang sedang asyik berbincang entah apa yang mereka bincangkan. ada yang berkelompok dan sendirian. ami dan mizuki terus berjalan. wajah orang jepang tentu saja berbeda dengan korea jadi terkadang mereka menjadi bahan pembicaraan.
mereka pun duduk di rumput hijau di dekat pohon besar mereka. pun berbincang, bahkan sesekali tertawa.
"kau sudah dapat bahan mu...?'" mizuki pun mengeluarkan botol air dari tasnya.
"hmmm......sepertinya sudah..." ami pun menerima air yang diberikan mizuki
"cepat sekali aku saja belum...." ami pun mendengar ponselnya berdering dan melihat nama yang memanggilnya itu adalah eiji.
"moshi-moshi ?(hallo)" ami menarik nafasnya panjang.
"hei kudengar ada tur di kampusku, apa kau ikut ? oh iya kau menang kan. pasti kau ikut." eiji tampak tidak sabar menunggu jawaban ami.
"ti....tidak... maksudku iya... tapi..." belum selesai ami bicara
"bagus,,, aku akan temui kau di gerbang sekolah ini jam 4 nanti bisa kan ?"
"akan kuusahakan tapi tak janji." ami kembali menarik nafasnya panjang.
"kau kenapa ami,, kau tidak merindukan ku ?"
"tentu saja, tapi aku terlalu sibuk eiji-kun " ami pun menitikkan air matanya.
"baik datang atau tidak akan kutunggu."
ami pun menutup ponselnya dan mengusap air matanya.
"kenapa sedih?" mizuki pun memberikan sapu tangannya.
"itulah aku takutkan mizuki-chan. aku terlalu takut untuk bertemu" ami pun mengusap lagi air matanya.
"katakan saja yang sejujurnya padanya agar masalahnya selesai. " ami pun tersenyum dan mulai menceritakan kejadian yang dialaminya.
"wow kau harus menemuinya ami" mizuki pun melihat jamnya.
"hei sudah jam 03.50 ayo cepat kita akan bertemu di hotel akan kujelaskan pada panitianya mereka pasti akan mengerti" mizuki pun melambaikan tangannya dan pergi menuju kelompoknya.
ami pun menunggu eiji di gerbang dijamnya menunjuk sudha pukul 4 ami terus menunggu dan menunggu bahkan sudah lewat 40 menit.
"ya tuhan sudah hampir satu jam dia belum datang." ami pun terus berjalan ke sana-kemari.
"AMI !!! maaf ya aku terlambat"
ami tersenyum ia melihat tangan eiji ada yang menggenggam dia melihat tangan siapa itu dan tangan itu adalah milik eunjo teman koreanya sendiri.
ami perlahan menghapus senyumannya dan merasa kalau ini sudah berakhir dan ia menyerah sudah ,,,, inilah finalnya.
-bersambung-
Rabu, 23 September 2015
sakuranya sudah layu.
*ini dia*
para mahasiswa jepang ini masih berdiri di depan pintu masuk universitas sogang seoul, dan ami masih ingin bertemu dengan eiji. dimana kau eiji. itulah yang ada di kepala ami. dia juga bertemu dengan teman baru yang pergi bersamanya dalam tur ini.
"baiklah kalian diberikan waktu untuk menjelajah sekolah ini kalian diwajibkan untuk memberikan laporan apa-saja yang kalian lihat dan pelajari disini. unutk kalian sekolah ini bisa di jadikan latar pada cerita yang akan kalian buat, dan tidak usah terburu-buru karena kita akan kembali ke penginapan unutk beberapa jam lagi." kakak panitianya itu mempersilahkan para siswanya dan semuanya berpencar mencari teman masing-masing untuk berkeliling.
*bicara dalam bhs inggris
"hai kau ami kan ? " seorang wanita menepuk pundak ami dan otomatis ami berbalik.
"kau.... eunjo kan ... wanita korea yang di jepang waktu itu.? " ami terus bersalaman dengan eunjo.
"sebenarnya aku ingin tinggal lebih lama lagi. tapi tugas memanggil ku, kau kenapa ada disini ? kau anggota mahasiswa yang datang untuk study tour ya ?" eunjo pun melingkarkan tangan kanannya ke tangan kiri ami.
"mari ku ajak kau melihat kampusku." eunjo dengan semangat menarik lengan ami dan berjalan di tengah keramaian siswa korea.
"sekolahmu indah sekali." ami melihat lihat sekolah sugong yang memang agak lebih besar.
"terimakasih aku menghargainya." eunjo pun menarik ami ke arah para pria yang sedang bermain tennis.
"tennis disini lebih ramai daripada di jepang"
"benarkah. " kata eunjo sambil melambaikan tanganarnya kepada salah satu lelaki disana.
lalu lelaki itu berbalik menatap ami dan eunjo.
"eiji........" ami mebelalakkan matanya melihat eiji juga sama kagetnya melihat ami.
"you know him ? he is one of my boyfriend" mendengar kata-kata eunjo ami menatap eunjo dengan tatapan aneh.
"boyfriend ?" anehnya ami merasa ada yang sakit dihatinya tiba-tiba.
"ah aku tidak kenal dia..... eiji itu maksudnya dia mirip sama orang yang kukenal tapi mungkin itu bukan dia, oh sudah hampir jam makan siang..... aku...aku pergi dulu" ami langsung terbata-bata dan ingin meninggalkan lapangan tennis itu.
eiji melihat ami akan pergi dia pun mempercepat langkahnya sesampainya di posisi eunjo ami sudah keluar lapangan tennis itu.
eiji mengejar ami tapi ami lebih pintar ami bersembunyi agar eiji tidak melihatnya.
"ada apa eiji.?" eunjo menghampiri eiji yang berdiri sambil melongok ke kanan dan ke kiri.
"ku kira aku melihat orang yang ku kenal tapi sepertinya aku salah." eiji pun berbalik.
ami segera bergabung dengan grupnya dan ikut makan siang . ia masih kepikiran dengan apa yang terjadi. ini dia. mungkin ini telah menyatakan padanya kalau eiji telah pergi.....
bersambung
*ini dia*
para mahasiswa jepang ini masih berdiri di depan pintu masuk universitas sogang seoul, dan ami masih ingin bertemu dengan eiji. dimana kau eiji. itulah yang ada di kepala ami. dia juga bertemu dengan teman baru yang pergi bersamanya dalam tur ini.
"baiklah kalian diberikan waktu untuk menjelajah sekolah ini kalian diwajibkan untuk memberikan laporan apa-saja yang kalian lihat dan pelajari disini. unutk kalian sekolah ini bisa di jadikan latar pada cerita yang akan kalian buat, dan tidak usah terburu-buru karena kita akan kembali ke penginapan unutk beberapa jam lagi." kakak panitianya itu mempersilahkan para siswanya dan semuanya berpencar mencari teman masing-masing untuk berkeliling.
*bicara dalam bhs inggris
"hai kau ami kan ? " seorang wanita menepuk pundak ami dan otomatis ami berbalik.
"kau.... eunjo kan ... wanita korea yang di jepang waktu itu.? " ami terus bersalaman dengan eunjo.
"sebenarnya aku ingin tinggal lebih lama lagi. tapi tugas memanggil ku, kau kenapa ada disini ? kau anggota mahasiswa yang datang untuk study tour ya ?" eunjo pun melingkarkan tangan kanannya ke tangan kiri ami.
"mari ku ajak kau melihat kampusku." eunjo dengan semangat menarik lengan ami dan berjalan di tengah keramaian siswa korea.
"sekolahmu indah sekali." ami melihat lihat sekolah sugong yang memang agak lebih besar.
"terimakasih aku menghargainya." eunjo pun menarik ami ke arah para pria yang sedang bermain tennis.
"tennis disini lebih ramai daripada di jepang"
"benarkah. " kata eunjo sambil melambaikan tanganarnya kepada salah satu lelaki disana.
lalu lelaki itu berbalik menatap ami dan eunjo.
"eiji........" ami mebelalakkan matanya melihat eiji juga sama kagetnya melihat ami.
"you know him ? he is one of my boyfriend" mendengar kata-kata eunjo ami menatap eunjo dengan tatapan aneh.
"boyfriend ?" anehnya ami merasa ada yang sakit dihatinya tiba-tiba.
"ah aku tidak kenal dia..... eiji itu maksudnya dia mirip sama orang yang kukenal tapi mungkin itu bukan dia, oh sudah hampir jam makan siang..... aku...aku pergi dulu" ami langsung terbata-bata dan ingin meninggalkan lapangan tennis itu.
eiji melihat ami akan pergi dia pun mempercepat langkahnya sesampainya di posisi eunjo ami sudah keluar lapangan tennis itu.
eiji mengejar ami tapi ami lebih pintar ami bersembunyi agar eiji tidak melihatnya.
"ada apa eiji.?" eunjo menghampiri eiji yang berdiri sambil melongok ke kanan dan ke kiri.
"ku kira aku melihat orang yang ku kenal tapi sepertinya aku salah." eiji pun berbalik.
ami segera bergabung dengan grupnya dan ikut makan siang . ia masih kepikiran dengan apa yang terjadi. ini dia. mungkin ini telah menyatakan padanya kalau eiji telah pergi.....
bersambung
Sabtu, 19 September 2015
-sakuranya sudah layu-
*benarkah ?*
"AMI AMI !!!! AMIIIIII" Terdengar suara hiruka yang berteriak memanggil ami.
"tenanglah ada apa ?" ami menaikkan sebelah alisnya.
hiruka sangat kelelahan bahkan nafasnya tersengal-sengal. "kau tidak akan percaya ini ami." hiruka langsung menarik tangan ami , menuruni satu demi satu anak tangga. dan tibalah ami dan hiruka di depan mading.
"oh iya ,,,, aku lupa." ami langsung berdiri tepat di depan kertas pengumuman pemenang penulis cerpen.
"kau peringkat pertama ami.!!!" hiruka mengguncang-guncangkan tubuh ami, sedangkan ami hanya bisa membelalakkan matanya dan melihat pengumuman itu tanpa henti-henti.
ami langusng merogoh tasnya dan mengambil ponselnya.
"aku menang.......aku menang eiji...aku menang......" wajah ami tersenyum dia terus mendengarkan ponselnya itu dan beberapa saat kemudian ia pun menutup ponselnya.
"eiji bilang apa.?"
ami hanya tersenyum menyimpan kembali ponselnya itu.
***
"waaahh lusa kau akan berangkat ke korea. bagus sekali." hiruka membuyarkan lamunan ami
"iya.... tapi aku akan kembali tenang saja.." ami hanya mengigiti pulpennya, sambil tersenyum.
hari yang ditunggu tiba, ami sudah siap berangkat ia bahkan mendapat peta kota korea , ia pun mengambil kotak dan melihat bunga sakura yang layu disana. lalu ia teringat dengan kejadian waktu piknik itu. ia segera mengambil kopernya dan berangkat ke kampus untuk berangkat dengan teman-teman yang masuk rank 1 hingga 10.
selama penerbangan itu ami masih senyum-senyum, memikirkan apa yang akan terjadi ketika ia menemui eiji nanti.
"baiklah semuanya ini adalah tempat kalian menginap selama 2 minggu di korea, jadi buatlah senyaman mungkin." panitia itu pun memberikan kertas pelayanan kepada ami, disana tertera apa saja pelayanan hotel itu.
setelah beberapa jam istirahat ami dan teman-temannya pergi ke suatu kampus ternama korean mereka diizinkan untuk mengexplore kampus tersebut.
-bersambung-
*benarkah ?*
"AMI AMI !!!! AMIIIIII" Terdengar suara hiruka yang berteriak memanggil ami.
"tenanglah ada apa ?" ami menaikkan sebelah alisnya.
hiruka sangat kelelahan bahkan nafasnya tersengal-sengal. "kau tidak akan percaya ini ami." hiruka langsung menarik tangan ami , menuruni satu demi satu anak tangga. dan tibalah ami dan hiruka di depan mading.
"oh iya ,,,, aku lupa." ami langsung berdiri tepat di depan kertas pengumuman pemenang penulis cerpen.
"kau peringkat pertama ami.!!!" hiruka mengguncang-guncangkan tubuh ami, sedangkan ami hanya bisa membelalakkan matanya dan melihat pengumuman itu tanpa henti-henti.
ami langusng merogoh tasnya dan mengambil ponselnya.
"aku menang.......aku menang eiji...aku menang......" wajah ami tersenyum dia terus mendengarkan ponselnya itu dan beberapa saat kemudian ia pun menutup ponselnya.
"eiji bilang apa.?"
ami hanya tersenyum menyimpan kembali ponselnya itu.
***
"waaahh lusa kau akan berangkat ke korea. bagus sekali." hiruka membuyarkan lamunan ami
"iya.... tapi aku akan kembali tenang saja.." ami hanya mengigiti pulpennya, sambil tersenyum.
hari yang ditunggu tiba, ami sudah siap berangkat ia bahkan mendapat peta kota korea , ia pun mengambil kotak dan melihat bunga sakura yang layu disana. lalu ia teringat dengan kejadian waktu piknik itu. ia segera mengambil kopernya dan berangkat ke kampus untuk berangkat dengan teman-teman yang masuk rank 1 hingga 10.
selama penerbangan itu ami masih senyum-senyum, memikirkan apa yang akan terjadi ketika ia menemui eiji nanti.
"baiklah semuanya ini adalah tempat kalian menginap selama 2 minggu di korea, jadi buatlah senyaman mungkin." panitia itu pun memberikan kertas pelayanan kepada ami, disana tertera apa saja pelayanan hotel itu.
setelah beberapa jam istirahat ami dan teman-temannya pergi ke suatu kampus ternama korean mereka diizinkan untuk mengexplore kampus tersebut.
-bersambung-
Kamis, 10 September 2015
-sakuranya sudah layu-
*aku harus menang*
ami memasuki ruang kampusnya, sebelum masuk ami sempat pergi ke mading kampus dan disana ada pengumuman tulis cerpen dan memenangkan trip study tour ke korea, ami berpikir dia pernah memenangkan juara satu perlombaan menulis cerpen, ia ingin sekali pergi ke korean terutama karena eiji ada disana.
ami langsung mengambil formulir pendaftaran dan langsung memulai pekerjaannya, di ruang kampusnya.
*bicara dalam bahasa jepang*
"ohayou ami (selamat pagi ami)." hiruka menghampiri ami yang tengah sibuk dengan laptopnya itu.
"ohayou.... " mata ami masih fokus ke arah laptopnya itu.
"ini cerpen ,, kau ikut lomba cerpen itu. waaahh sugoi(keren)" hiruka juga ikut memandangi laptop itu.
"jika menang pasti kau ke korea kan ?" hiruka sedikit menyenggol bahu ami.
"hentikan." ami pun menyimpan dokumennya dan menutup laptopnya.
"kenapa berhenti" hiruka merasa kalau ami berhenti karena kehadiran dirinya.
"aku masih bingung dengan jalan ceritanya , aku ingin mencari inspirasi dulu, sampai nanti." ami pun pergi sambil melambaikan tangannya.
ami pun pergi ke sebuah taman kota tokyo dan ingin mencari inspirasi disana, ia merasa iri dengan pasangan kekasih yang berjalan-jalan, sambil berpegangan tangan. ia pun mendapatkan ide tetang cerita dirinya dan eiji saat ia menyadari kalau ia belum mengatakan iya atau tidak.
dengan susah payah ami menyelesaikan cerpennya itu dan hiruka bisa melihat mata ami yang menghitam seperti panda. ami terlalu sibuk dengan cerpennya, sampai-sampai ia lupa dengan kesehatannya.
"permisi aku akan mengirimkan cerpen ini" ami sudah sampai di ruang panitia pengumpulan cerpen.
"baiklah kau akan terima hasilnya dua hari setelah hari ini" wanita berkaca mata itu pun mengambil cerpen nya dan memuatnya di dalam map yang besar bersama cerpen-cerpen yang lain.
ami pun pergi ke ruang kampusnya dan bertemu hiruka sedang berdandan untuk kencan buta,
"kau mau kemana.?" ami dudu tepat di depan hiruka yang sedang berdandan itu.
"kencan buta.." ami agak terkejut dengan pernyataan hiruka itu.
"lagi ? seingatku kau pernah bertemu dengan dengan orang yang sengaja memasang photo profilenya tampan namu kau bertemu orang aneh." ami pun menaikkan sebelah alisnya.
"ayolah ami yang kesekian kalinya pasti tepat." hiruka masih saja syik berdandan.
"bagaimana cerpenmu ?"
"butuh dua hari lagi, agar aku tau hasilnya." ami mengernyitkan dahinya.
"tenang... kau pasti menang." hiruka masih tampak sibuk dengan lipstick nya itu.
"aku harap." ami hanya menarik nafas panjang dan tersenyum ke arah hiruka.
*aku harus menang*
ami memasuki ruang kampusnya, sebelum masuk ami sempat pergi ke mading kampus dan disana ada pengumuman tulis cerpen dan memenangkan trip study tour ke korea, ami berpikir dia pernah memenangkan juara satu perlombaan menulis cerpen, ia ingin sekali pergi ke korean terutama karena eiji ada disana.
ami langsung mengambil formulir pendaftaran dan langsung memulai pekerjaannya, di ruang kampusnya.
*bicara dalam bahasa jepang*
"ohayou ami (selamat pagi ami)." hiruka menghampiri ami yang tengah sibuk dengan laptopnya itu.
"ohayou.... " mata ami masih fokus ke arah laptopnya itu.
"ini cerpen ,, kau ikut lomba cerpen itu. waaahh sugoi(keren)" hiruka juga ikut memandangi laptop itu.
"jika menang pasti kau ke korea kan ?" hiruka sedikit menyenggol bahu ami.
"hentikan." ami pun menyimpan dokumennya dan menutup laptopnya.
"kenapa berhenti" hiruka merasa kalau ami berhenti karena kehadiran dirinya.
"aku masih bingung dengan jalan ceritanya , aku ingin mencari inspirasi dulu, sampai nanti." ami pun pergi sambil melambaikan tangannya.
ami pun pergi ke sebuah taman kota tokyo dan ingin mencari inspirasi disana, ia merasa iri dengan pasangan kekasih yang berjalan-jalan, sambil berpegangan tangan. ia pun mendapatkan ide tetang cerita dirinya dan eiji saat ia menyadari kalau ia belum mengatakan iya atau tidak.
dengan susah payah ami menyelesaikan cerpennya itu dan hiruka bisa melihat mata ami yang menghitam seperti panda. ami terlalu sibuk dengan cerpennya, sampai-sampai ia lupa dengan kesehatannya.
"permisi aku akan mengirimkan cerpen ini" ami sudah sampai di ruang panitia pengumpulan cerpen.
"baiklah kau akan terima hasilnya dua hari setelah hari ini" wanita berkaca mata itu pun mengambil cerpen nya dan memuatnya di dalam map yang besar bersama cerpen-cerpen yang lain.
ami pun pergi ke ruang kampusnya dan bertemu hiruka sedang berdandan untuk kencan buta,
"kau mau kemana.?" ami dudu tepat di depan hiruka yang sedang berdandan itu.
"kencan buta.." ami agak terkejut dengan pernyataan hiruka itu.
"lagi ? seingatku kau pernah bertemu dengan dengan orang yang sengaja memasang photo profilenya tampan namu kau bertemu orang aneh." ami pun menaikkan sebelah alisnya.
"ayolah ami yang kesekian kalinya pasti tepat." hiruka masih saja syik berdandan.
"bagaimana cerpenmu ?"
"butuh dua hari lagi, agar aku tau hasilnya." ami mengernyitkan dahinya.
"tenang... kau pasti menang." hiruka masih tampak sibuk dengan lipstick nya itu.
"aku harap." ami hanya menarik nafas panjang dan tersenyum ke arah hiruka.
Rabu, 09 September 2015
-sakuranya sudah layu-
*teman baru*
"ada yang ingin aku beritahu lagi......" eiji pun memegang tangan ami.
"kau sahabatku ami.... tapi merasa ada yang aneh,,,,, aku tidak bisa melupakan senyumanmu walau semenit saja, itulah sebab aku selalu mengetuk jendelamu kalau aku merindukanmu...." ami mendongak, ami tidak menyangka kalau perasaannya sama dengan perasaan eiji itu sama tapi ami terlalu malu untuk mengatakannya.
"ami aku meyukaimu........aku ingin jadi suamimu suatu hari nanti,,, setelah aku pulang dari korea aku akan langsung menikahimu, kau mau kan ? " ami membelalakan matanya setengah tidak percaya, eiji tersenyum dan mencium ami tepat di bawah bunga sakura yang belum mekar.
sudah lewat beberapa hari dari kejadian piknik itu, eiji pun sudah pergi ke korea, mereka setiap malam selalu berbicara tentang hari mereka. ami juga sudah ada di tokyo. dia berhasil memasuki salah satu universitas disana.
ami berjalan-jalan di taman sakura yang ada di tokyo, sakuranya sudah mekar dan bertaburan, ia melihat para kekasih tertawa dan makan dibawah pohon sakura. tentu saja ia merasa iri, biasanya saat ini ia juga akan bersama eiji, makan bola nasi yang besar. bahkan di mulut juga tidak muat, ami hanya tertawa sendiri jika mengingat kenangan itu.
"anyeong haseyo !" ami melihat ke kanannya dan melihat seorang gadis berambut bob duduk disampingnya dan tersenyum.
"na , dangsin-eun i jusoleul algo sillye ?(permisi kau tahu alamat ini) ?" ami hanya menaikkan seelah alisnya dan mengangkat kedua bahunya, tentu saja ia tidak mengerti.
"oh sorry, you know this adress ?" dia pun kembali berbahasa inggris dan barulah ami mengerti,.
"i'm still new in here sorry i dont know, but i can help you to ask the security here." ami pun berdiri dan menyandang tasnya.
"thank you so much." mereka pun pergi ke kantor security, dan bertemu dengan salah satu petugas disana.
"Anata wa kono adoresu de watashitachi o tasukeru koto ga dekiru baai wa, osoreirimasuga? Miru tame ni watashitachi no konran.(permisi, apakah anda bisa membantu kami dengan alamat ini ? kami kebingungan mencarinya.)"
"Ā, kono adoresu wa koko kara wazuka 3 burokkudesu. Sonogo, sasetsu. Kore ga saidai no apāto no jūshodesu.(oh, alamat ini hanya tiga block dari sini. kemudian, belok kiri. ini adalah alamat apartemen terbesar disana. )" kata petugas itu.
"Sono shōsai ni tsuite wa, dōmo arigatōgozaimashita. (terimakasih banyak, atas informasinya.)" ami pun mengajak wanita itu pergi ke alamat yang dituju.
*bicara dalam bahasa inggris.*
"jadi, siapa namamu ?" ami melihat wanita itu yang tengah mengikuti ami dari belakang.
"namaku song eunjo, kau bisa panggil aku eunjo." balas eunjo.
"pasti kau dari korea kan ? aku bisa lihat dari bahasamu tadi." mereka terus berjalan menyusuri blok demi blok memang agak jauh tapi eunjo menolak menaiki taksi dia ingin menikmati jepang lebih dalam lagi.
"benar ! aku datang ke sini karena saran dari temanku, dia juga seorang jepang.!" eunjo pun mengambil sesuatu dari tasnya dan ternyata itu ponselnya.
"annyeonghaseyo , oppa . naega dochaghaessseubnida . jeongmal aleumdaun ilbon . yeogi sonsildoebnida. (hallo, oppa. aku sudah sampai. jepang indah sekali, sungguh. aku sampai tersesat disini.)" eunjo terlihat mengobrol dengan seseorang di seberang sana.
"ani, o . naneun chingu leul mannassda.(oh , tidak. aku bertemu teman)" ami tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"ye. naneun god naega apateulo eod-eul geos-ida , jasin-eul yujihabnida.(iya. aku akan jaga diri, sebentar lagi aku akan sampai di apartemennya.)" eunjo melirik ami dan kembali fokus ke ponselnya.
"ne, annyeong , 'ye' ( iya, sudah ya, bye ) " eunjo pun menutup teleponnya
"dari siapa ?" ami melihat teman barunya itu.
"dari temanku yang jepang tadi , dia khawatir aku sudah sampai atau belum." ami hanya mengangguk.
"kau punya kekasih ?" ami agak terkejut dengan pertanyaan eunjo. ;oh iya apa sebenarnya hubungannya dengan eiji pasalnya dia belum menjawab pertanyaan eiji, sampai sekarang. oh tidak ! apakah itu artinya eiji tidak akan pulang. ami bertengkar dengan pikirannya sendiri.
"hei kau kenapa ?" ami pun melihat eunjo yang tengah melambai-lambaikan tangannya.
"oh tidak-apa-apa, hey kita sudah sampai ini apartemennya, " eunjo melihat sekeliling bangunan itu.
"baiklah, terima kasih ya ! oh iya ! siapa namamu tadi ?"
"Ami." ami pun melambaikan tangannya dan mereka pun berpisah, ami menelpon eiji untuk menceritakan kalau dia punya teman baru tapi ponsel eiji tidak aktif. ami hanya menarik nafas panjang, mungkin eiji sibuk. ami pun memanggil taxi dan pergi ke kampusnya.
-bersambung-
*teman baru*
"ada yang ingin aku beritahu lagi......" eiji pun memegang tangan ami.
"kau sahabatku ami.... tapi merasa ada yang aneh,,,,, aku tidak bisa melupakan senyumanmu walau semenit saja, itulah sebab aku selalu mengetuk jendelamu kalau aku merindukanmu...." ami mendongak, ami tidak menyangka kalau perasaannya sama dengan perasaan eiji itu sama tapi ami terlalu malu untuk mengatakannya.
"ami aku meyukaimu........aku ingin jadi suamimu suatu hari nanti,,, setelah aku pulang dari korea aku akan langsung menikahimu, kau mau kan ? " ami membelalakan matanya setengah tidak percaya, eiji tersenyum dan mencium ami tepat di bawah bunga sakura yang belum mekar.
sudah lewat beberapa hari dari kejadian piknik itu, eiji pun sudah pergi ke korea, mereka setiap malam selalu berbicara tentang hari mereka. ami juga sudah ada di tokyo. dia berhasil memasuki salah satu universitas disana.
ami berjalan-jalan di taman sakura yang ada di tokyo, sakuranya sudah mekar dan bertaburan, ia melihat para kekasih tertawa dan makan dibawah pohon sakura. tentu saja ia merasa iri, biasanya saat ini ia juga akan bersama eiji, makan bola nasi yang besar. bahkan di mulut juga tidak muat, ami hanya tertawa sendiri jika mengingat kenangan itu.
"anyeong haseyo !" ami melihat ke kanannya dan melihat seorang gadis berambut bob duduk disampingnya dan tersenyum.
"na , dangsin-eun i jusoleul algo sillye ?(permisi kau tahu alamat ini) ?" ami hanya menaikkan seelah alisnya dan mengangkat kedua bahunya, tentu saja ia tidak mengerti.
"oh sorry, you know this adress ?" dia pun kembali berbahasa inggris dan barulah ami mengerti,.
"i'm still new in here sorry i dont know, but i can help you to ask the security here." ami pun berdiri dan menyandang tasnya.
"thank you so much." mereka pun pergi ke kantor security, dan bertemu dengan salah satu petugas disana.
"Anata wa kono adoresu de watashitachi o tasukeru koto ga dekiru baai wa, osoreirimasuga? Miru tame ni watashitachi no konran.(permisi, apakah anda bisa membantu kami dengan alamat ini ? kami kebingungan mencarinya.)"
"Ā, kono adoresu wa koko kara wazuka 3 burokkudesu. Sonogo, sasetsu. Kore ga saidai no apāto no jūshodesu.(oh, alamat ini hanya tiga block dari sini. kemudian, belok kiri. ini adalah alamat apartemen terbesar disana. )" kata petugas itu.
"Sono shōsai ni tsuite wa, dōmo arigatōgozaimashita. (terimakasih banyak, atas informasinya.)" ami pun mengajak wanita itu pergi ke alamat yang dituju.
*bicara dalam bahasa inggris.*
"jadi, siapa namamu ?" ami melihat wanita itu yang tengah mengikuti ami dari belakang.
"namaku song eunjo, kau bisa panggil aku eunjo." balas eunjo.
"pasti kau dari korea kan ? aku bisa lihat dari bahasamu tadi." mereka terus berjalan menyusuri blok demi blok memang agak jauh tapi eunjo menolak menaiki taksi dia ingin menikmati jepang lebih dalam lagi.
"benar ! aku datang ke sini karena saran dari temanku, dia juga seorang jepang.!" eunjo pun mengambil sesuatu dari tasnya dan ternyata itu ponselnya.
"annyeonghaseyo , oppa . naega dochaghaessseubnida . jeongmal aleumdaun ilbon . yeogi sonsildoebnida. (hallo, oppa. aku sudah sampai. jepang indah sekali, sungguh. aku sampai tersesat disini.)" eunjo terlihat mengobrol dengan seseorang di seberang sana.
"ani, o . naneun chingu leul mannassda.(oh , tidak. aku bertemu teman)" ami tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"ye. naneun god naega apateulo eod-eul geos-ida , jasin-eul yujihabnida.(iya. aku akan jaga diri, sebentar lagi aku akan sampai di apartemennya.)" eunjo melirik ami dan kembali fokus ke ponselnya.
"ne, annyeong , 'ye' ( iya, sudah ya, bye ) " eunjo pun menutup teleponnya
"dari siapa ?" ami melihat teman barunya itu.
"dari temanku yang jepang tadi , dia khawatir aku sudah sampai atau belum." ami hanya mengangguk.
"kau punya kekasih ?" ami agak terkejut dengan pertanyaan eunjo. ;oh iya apa sebenarnya hubungannya dengan eiji pasalnya dia belum menjawab pertanyaan eiji, sampai sekarang. oh tidak ! apakah itu artinya eiji tidak akan pulang. ami bertengkar dengan pikirannya sendiri.
"hei kau kenapa ?" ami pun melihat eunjo yang tengah melambai-lambaikan tangannya.
"oh tidak-apa-apa, hey kita sudah sampai ini apartemennya, " eunjo melihat sekeliling bangunan itu.
"baiklah, terima kasih ya ! oh iya ! siapa namamu tadi ?"
"Ami." ami pun melambaikan tangannya dan mereka pun berpisah, ami menelpon eiji untuk menceritakan kalau dia punya teman baru tapi ponsel eiji tidak aktif. ami hanya menarik nafas panjang, mungkin eiji sibuk. ami pun memanggil taxi dan pergi ke kampusnya.
-bersambung-
Selasa, 08 September 2015
-sakuranya sudah layu.-
*berpisah ?*
"AMI !!!" ami berhenti mendengar seseorang memanggil namanya dari kejauhan dan membalikkan badannya.
"eiji kun !!" ami pun berlari ke arah eiji yang tengah menenteng sepedanya.
"hmm ami kau mau temani aku piknik besok.?" ami melihat eiji dan mengangguk dengan cepat.
"baguslah,,," eiji mengelus rambut ami sampai berantakan.
ami dan eiji sudah bersahabat sejak kecil. mereka berjanji akan selalu bersama selamanya hanya waktu dan tuhan yang akan memisahkan mereka.
"eiji ........ kau ingin melanjut kemana ?" ami melihat ke arah eiji yang masih menenteng sepedanya.
"entahlah....." eiji langsung berhenti dan melihat ami dengan mata serius dan sedikit mencemberutkan mulutnya.
"kau ?" eiji bertanya hal yang sama kepada ami, ia ingin tau kemana ai akan melanjut.
"aku juga belum tau.... tapi aku ingin ke tokyo." ami kemudian kembali berjalan diiringi lompatan-lompatan kecil.
"kenapa tokyo.?" eiji menaikkan sebelah alisnya.
"entahlah mungkin hanya tokyo yang belum ku kunjungi.!" ami terus berjalan dengan senyuman lebar.
ada sesuatu yang mengganjal di hati eiji, dan ingin memberitahukannya kepada ami tapi,,, ia takut ami akan marah. karena ini bisa melanggar janji mereka yang sudah mereka buat selama ini.
rumah eiji dan ami bersebelahan bahkan jendela kamar mereka bersebelahan.
"aku pulang...." ami memasuki rumah dan melihat ibunya sedang bercengkrama dengan ibunya eiji.
"aahhh ami chan kau sudah pulang, mungkin eiji juga sudah pulang , baiklah nyonya nakashima aku pergi dulu " ibunya eiji pun pergi dan hanya tinggal ami dan ibunya diruang tamu.
"pergilah ganti bajumu setelah itu makan ibu sudah buat kari untukmu." ibunya ami pun pergi ke dapur.
ami perlahan membuka pintu kamarnya dan duduk di depan komputernya, ia pun mendengar jendelanya di ketuk.
"eiji kun ! ada apa ?" ami melihat eiji membawa kotak kardus kecil.
"ini komik, kau suka kan ?" ami memang sangat menyukai komik bahkan koleksi komik dikamarnya sudah seperti perpustakaan.
"terima kasih eijikun. " ami pun menaruh komik itu di lantai kamarnya dan kembali melihat eiji.
"jangan lupa besok ya !" eiji pun.menutup jendelanya dan amipun segera masuk ke kamarnya.
sudah siang tapi eiji belum juga terlihat, ami sudah membawa keranjang piknik dan melihat pohon sakura sudah siap untuk mekar.
"AMI !!" suara eiji terdengar dari kejauhan.
"kau terlambat,,,,, aku sudah lama disini." ami langsung membalikkan badannya dan memperlihatkan wajahnya yang cemberut.
"maaf-maaf, aku mencari ini." eiji pun memperlihatkan bunga sakura yang dibawanya ami melihat bunga itu dengan mata terbelalak.
"seharusnya kita piknik di saat sakura mekar tapi karena sakura belum mekar jadinya aku beli sakura ini, kau simpan ya ! sebagai permintaan maaf dan anggap kalau kita berpiknik saat sakura mekar." senyuman eiji bisa meluluhkan hati ami yang saat itu sedang dongkol dan ia pun tersenyum.
"wow bola nasi ini terlalu besar untuk ukuran mulutku." eiji menggoda ami karena bola nasi ami memang sedikit agak besar.
"aku sudah susah payah." eiji pun mengelus kepala ami.
"yaahh aku bisa lihat itu. kita makan sekarang.?" ami mengangguk dan mereka pun mempunyai waktu piknik yang luar biasa.
"ami......." eiji melihat ami disampingnya.
"hmmm ?" ami melihat eiji dan mereka slaing berpandangan.
"aku ...... tidak akan ada di jepang untuk waktu yang lama." eiji kembali menatap kedepan dengan wajah yang lesu dan sedih.
"kenapa ?" ami pun mulai melihat eiji dengan mata bertanya-tanya.
"aku akan ke korea untuk waktu yang lama. dan mungkin akan tinggal disana." mia menghadap eiji dengan mata yang hampir berair.
"kenapa ?" ami tidak percaya kalau eiji akan pergi.
"karena aku akan sekolah dan bekerja disana." eiji pun menghadap ami yang matanya sudah berkaca-kaca.
"kenapa ?" ami pun mengusap matanya yang sudah berair.
"ami...... tidak selamanya aku akan disini ." eiji pun mengusap air mata ami.
semakin lama tangisan ami menjadi tersedu-sedu dan semakin keras.
"sudahlah ami,,, ini juga terasa berat untukku,, tapi aku harus berusaha kan ,, agar aku mendapat yang terbaik." eiji pun melihat sakura yang ada di depan mereka berdua.
"aku akan pergi sebelum sakura mekar ami... jadi ku harap sakura ini bisa mengingatkanmu padaku." eiji mengambil sakura itu dan memberikannya pada ami.
ami hanya mengangguk dan masih menahan tangisnya.
-bersambung-
*berpisah ?*
"AMI !!!" ami berhenti mendengar seseorang memanggil namanya dari kejauhan dan membalikkan badannya.
"eiji kun !!" ami pun berlari ke arah eiji yang tengah menenteng sepedanya.
"hmm ami kau mau temani aku piknik besok.?" ami melihat eiji dan mengangguk dengan cepat.
"baguslah,,," eiji mengelus rambut ami sampai berantakan.
ami dan eiji sudah bersahabat sejak kecil. mereka berjanji akan selalu bersama selamanya hanya waktu dan tuhan yang akan memisahkan mereka.
"eiji ........ kau ingin melanjut kemana ?" ami melihat ke arah eiji yang masih menenteng sepedanya.
"entahlah....." eiji langsung berhenti dan melihat ami dengan mata serius dan sedikit mencemberutkan mulutnya.
"kau ?" eiji bertanya hal yang sama kepada ami, ia ingin tau kemana ai akan melanjut.
"aku juga belum tau.... tapi aku ingin ke tokyo." ami kemudian kembali berjalan diiringi lompatan-lompatan kecil.
"kenapa tokyo.?" eiji menaikkan sebelah alisnya.
"entahlah mungkin hanya tokyo yang belum ku kunjungi.!" ami terus berjalan dengan senyuman lebar.
ada sesuatu yang mengganjal di hati eiji, dan ingin memberitahukannya kepada ami tapi,,, ia takut ami akan marah. karena ini bisa melanggar janji mereka yang sudah mereka buat selama ini.
rumah eiji dan ami bersebelahan bahkan jendela kamar mereka bersebelahan.
"aku pulang...." ami memasuki rumah dan melihat ibunya sedang bercengkrama dengan ibunya eiji.
"aahhh ami chan kau sudah pulang, mungkin eiji juga sudah pulang , baiklah nyonya nakashima aku pergi dulu " ibunya eiji pun pergi dan hanya tinggal ami dan ibunya diruang tamu.
"pergilah ganti bajumu setelah itu makan ibu sudah buat kari untukmu." ibunya ami pun pergi ke dapur.
ami perlahan membuka pintu kamarnya dan duduk di depan komputernya, ia pun mendengar jendelanya di ketuk.
"eiji kun ! ada apa ?" ami melihat eiji membawa kotak kardus kecil.
"ini komik, kau suka kan ?" ami memang sangat menyukai komik bahkan koleksi komik dikamarnya sudah seperti perpustakaan.
"terima kasih eijikun. " ami pun menaruh komik itu di lantai kamarnya dan kembali melihat eiji.
"jangan lupa besok ya !" eiji pun.menutup jendelanya dan amipun segera masuk ke kamarnya.
sudah siang tapi eiji belum juga terlihat, ami sudah membawa keranjang piknik dan melihat pohon sakura sudah siap untuk mekar.
"AMI !!" suara eiji terdengar dari kejauhan.
"kau terlambat,,,,, aku sudah lama disini." ami langsung membalikkan badannya dan memperlihatkan wajahnya yang cemberut.
"maaf-maaf, aku mencari ini." eiji pun memperlihatkan bunga sakura yang dibawanya ami melihat bunga itu dengan mata terbelalak.
"seharusnya kita piknik di saat sakura mekar tapi karena sakura belum mekar jadinya aku beli sakura ini, kau simpan ya ! sebagai permintaan maaf dan anggap kalau kita berpiknik saat sakura mekar." senyuman eiji bisa meluluhkan hati ami yang saat itu sedang dongkol dan ia pun tersenyum.
"wow bola nasi ini terlalu besar untuk ukuran mulutku." eiji menggoda ami karena bola nasi ami memang sedikit agak besar.
"aku sudah susah payah." eiji pun mengelus kepala ami.
"yaahh aku bisa lihat itu. kita makan sekarang.?" ami mengangguk dan mereka pun mempunyai waktu piknik yang luar biasa.
"ami......." eiji melihat ami disampingnya.
"hmmm ?" ami melihat eiji dan mereka slaing berpandangan.
"aku ...... tidak akan ada di jepang untuk waktu yang lama." eiji kembali menatap kedepan dengan wajah yang lesu dan sedih.
"kenapa ?" ami pun mulai melihat eiji dengan mata bertanya-tanya.
"aku akan ke korea untuk waktu yang lama. dan mungkin akan tinggal disana." mia menghadap eiji dengan mata yang hampir berair.
"kenapa ?" ami tidak percaya kalau eiji akan pergi.
"karena aku akan sekolah dan bekerja disana." eiji pun menghadap ami yang matanya sudah berkaca-kaca.
"kenapa ?" ami pun mengusap matanya yang sudah berair.
"ami...... tidak selamanya aku akan disini ." eiji pun mengusap air mata ami.
semakin lama tangisan ami menjadi tersedu-sedu dan semakin keras.
"sudahlah ami,,, ini juga terasa berat untukku,, tapi aku harus berusaha kan ,, agar aku mendapat yang terbaik." eiji pun melihat sakura yang ada di depan mereka berdua.
"aku akan pergi sebelum sakura mekar ami... jadi ku harap sakura ini bisa mengingatkanmu padaku." eiji mengambil sakura itu dan memberikannya pada ami.
ami hanya mengangguk dan masih menahan tangisnya.
-bersambung-
Senin, 07 September 2015
<3 apa masih ada harapan ?--
jessica termenung membaca sms dari sam kekasihnya, ia masih merasa kalau sam terlalu sibuk walau hanya untuk sekedar berbicara padanya, setiap kali sam mengirimkan sms jessica langsung menelfonnya dan selalu saja hp sam sibuk. sam selalu bilang kalau yang ia lakukan di tempat kerja itu untuk mereka berdua tapi tetap saja jessica merasa kalau ia tak pernah diperhatikan.
jessica pergi ke restoran ditempat ia bekerja sebagai manager, ia masih kepikiran dengan kelakuan sam akhir-akhir ini, ia masih bisa mengingat saat SMA Sam berlari hujan-hujanan hanya untuk menembak jessica, apakah hanya sampai disitu keromantisan yang ia miliki ? jessica tak pernah menaruh curiga pada sam tapi yang jelas sam telah berubah.
jessica terus mencoba menghubungi sam di sela-sela kesibukannya hanya untuk mengetahui apakah kekasihnya itu mau untuk berbicara hanya beberapa menit saja namun yang terdengar hanya kotak pesan sam.
"hai aku sedang keluar,,, jika ada yang ingin dibicarakan tunggu sampai bunyi biiiiip" jessica hanya menarik nafas panjang,,
"sam aku ingin bertemu,,, bisakah ? jika tidak bisa , tidak apa-apa, lagipun ini tidak terlalu penting di tempat biasa jam 7 malam, aku tunggu kabar darimu." jessica langsung mentup hpnya dan memasukkannya ke dalam tasnya.
sam masih belum membalas pesan jessica dan dipikirannya sudah ada setan yang berbisik, apakah dia selingkuh.? apakah dia sudah tidak ingin bersamaku lagi?. tak lama handphonenya berbunyi tertera nama sam yang memanggilnya, jessica langsung mengangkat telepon sam dengan semangatnya.
"hallo hmmm jess.. gimana kalau besok aja soalnya aku lagi sibuk banget nanti juga ada meeting gimana ? gak papa kan ?" terdengar suara sam yang cepat seperti kereta api.
jessica kecewa dengan sikap sam ia langsung menutup telepon dan otomatis pembicaraan mereka terputus jessica hanya bisa mengerutkan dahinya dan cemberut duduk di sudut ruangan kantornya, tiba-tiba saja seorang pelayan menggubrak pintu kantor jessica sambil menangis.
"ada apa blaire , kenapa kau menangis ?" pelayan tampak sangat berantakan rambutnya acak-acakan seperti telah diterkam harimau ganas, ia langsung bersembunyi di bawah meja jessica sambil memeluk kedua lututnya.
"DIMANA WANITA JALANG ITU," terdengar suara wanita yang memasuki ruangan jessica tak lama setelah pelayan itu.
"tenanglah nyonya, ada yang bisa saya bantu." wanita itu langsung mengarahkan matanya ke arah jessica.
"di mana wanita jalang yang kau sembunyikan itu." ia melihat ke seluruh ruangan tapi tak melihat pelayan tadi.
"ada apa sebenarnya nyonya." jessica langsung mengajak wanita itu keluar tapi ia tidak mau ia malah memutari meja kerja jessica dan menemukan blaire yang tengah meringkuk ketakutan disana.
"disini kau rupanya." dia pun menarik kerah baju blaire dan ingin menamparnya.
tapi jessica dengan sigap menangkap tangan wanita itu dan menahan kedua tangannya,
"apa yang akan kau lakukan padanya? " jessica menyuruh pelayan itu keluar dari kantornya.
"wanita itu telah menggoda suamiku. pantas saja suamiku suka bertahan disini, karena ia menemukan wanita gila itu." wanita itu bersikeras ingin melepaskan tangannya.
"yang seharusnya disebut gila itu adalah anda,, anda tiba-tiba datang dan ingin membunuh salah satu pelayanku. bukankah hal yang seharusnya anda lakukan adalah berdandan lebih sexy daripada pelayan disini.agar suami anda betah dirumah, lagipula suami anda yang kegenitan, lebih baik anda jaga suami dan kelakuan anda , dan tolong keluar dari restaurant ini, atau saya panggil polisi." jessica masih menggenggam kedua tangan wanita paruh baya itu dengan sangat kencang.
"baiklah -baiklah tapi lepaskan aku. " mendengar hal ini jessica pun melepaskan kedua tangan wanita itu . tapi wanita itu mengambil botol kaca dan bermaksud memukul kepala jessika yang tengah membelakanginya.
"dasar kau !!!!!!!" jessica membalikkan badannya dan melihat tangan wanita itu di pegang oleh seseorang dari belakang dan mengambil tangan yang lainnya dan ia pun menjatuhkan botol kaca itu.
"SAM !" jessica melihat sam yang tengah bersikeras menahan kedua tangan wanita itu dan ada dua orang polisi yang datang dan langsung memborgolnya.
sam langsung memeluk jessica dengan erat, jessica juga tidak percaya kalau yang selama ini sam begitu sibuk, tiba-tiba ada di depannya dan memeluknya dengan erat.
"syukurlah kau tidak apa-apa.. " san terus memeluk jessica,
"aku ketakutan sam." jessica terus memeluk sam dan tiba-tiba tubuhnya bergetar, keringat mengucur deras, dan jessica tak bisa membendungnya lagi ia pingsan tepat di pelukan sam.
jessica mencoba membuka matanya yang berat itu ia melihat sam tengah memegang tangan kanannya dan ia tengah ada di sofa panjang di kantornya.
"sam ?" sam langsung mencium kening jessica.
jessicapun melihat sekelilingnya dan melihat banyak pelayannya menungguinya.
"kenapa kalian ..... tidak bekerja ?" jessica melihat mereka semua dengan mata yang masih sayu.
"anda adalah atasan yang baik . kami ingin terus bersama anda. kami sangat khawatir sampai-sampai kami menutup restoran." kata seorang chef berbadan agak gemuk.
"maafkan saya, saya sudah menyuruh pria itu pulang tapi dia tidak mau ia selalu ingin saya yang melayani setiap ia makan disini. jika saya tidak melayaninya, ketika pulang ia akan menemui saya dan mengancam, saya sangat ketakutan." blaire pun menangis dan tertunduk di depan jessica.
"tapi tenang saja kau sudah aman dia sudah ditangkap kan ?" jessica mencoba menghibur blaire. dan itu berhasil blaire pun tersenyum tapi masih terduduk diam.
"kau sam ? bukannya kau ada meeting." jessica mencoba bangun dan dibantu oleh sam.
"sebenarnya meeting itu sudah ku cancel , kau tau kenapa aku selalu sibuk ? aku menabung untuk membeli ini." sam pun mengeluarkan kotak dari sakunya.
"jessica ,,,, aku merasa bersalah setiap kali kau telfon pasti aku sibuk, aku merasa bersalah karena aku tidak ada untukmu tapi aku sangat mencintaimu dan saat kau menutup telepon secara tiba-tiba aku langsung kemari. dan aku ingin kau bersamaku selamanya jessica, maukah kau menikah denganku, aku tau mungkin kau membenciku tapi ....." jessica pun mengarahkan telunjuknya ke mulut sam.
"tidak sam,,,, aku tidak membencimu,,, memang kadang-kadang, tapi .... perasaanku sama denganmu. aku juga sangat mencintaimu sam. dan aku bersedia menjadi pengantinmu" jessica langsung memeluk sam. ia tak menyangka hal ini akan terjadi padanya.
sam benar kesibukan yang selama ini dijalaninya hanya untuk jessica. jessica tak bisa menahan senyumnya yang merekah. bahkan matanya yang sayu kini berubah sangat cerah.
jessica tak menyangka sam membelikannya cincin yang langsung disematkan ke jari manisnya.
"kau suka...?" sam hanya tersenyum kepada jessica.
"kau gila ? aku sangat menyukainya." jessica langsung mencium sam didepan semua orang bahkan ada yang menutup matanya.
-the end-
jessica termenung membaca sms dari sam kekasihnya, ia masih merasa kalau sam terlalu sibuk walau hanya untuk sekedar berbicara padanya, setiap kali sam mengirimkan sms jessica langsung menelfonnya dan selalu saja hp sam sibuk. sam selalu bilang kalau yang ia lakukan di tempat kerja itu untuk mereka berdua tapi tetap saja jessica merasa kalau ia tak pernah diperhatikan.
jessica pergi ke restoran ditempat ia bekerja sebagai manager, ia masih kepikiran dengan kelakuan sam akhir-akhir ini, ia masih bisa mengingat saat SMA Sam berlari hujan-hujanan hanya untuk menembak jessica, apakah hanya sampai disitu keromantisan yang ia miliki ? jessica tak pernah menaruh curiga pada sam tapi yang jelas sam telah berubah.
jessica terus mencoba menghubungi sam di sela-sela kesibukannya hanya untuk mengetahui apakah kekasihnya itu mau untuk berbicara hanya beberapa menit saja namun yang terdengar hanya kotak pesan sam.
"hai aku sedang keluar,,, jika ada yang ingin dibicarakan tunggu sampai bunyi biiiiip" jessica hanya menarik nafas panjang,,
"sam aku ingin bertemu,,, bisakah ? jika tidak bisa , tidak apa-apa, lagipun ini tidak terlalu penting di tempat biasa jam 7 malam, aku tunggu kabar darimu." jessica langsung mentup hpnya dan memasukkannya ke dalam tasnya.
sam masih belum membalas pesan jessica dan dipikirannya sudah ada setan yang berbisik, apakah dia selingkuh.? apakah dia sudah tidak ingin bersamaku lagi?. tak lama handphonenya berbunyi tertera nama sam yang memanggilnya, jessica langsung mengangkat telepon sam dengan semangatnya.
"hallo hmmm jess.. gimana kalau besok aja soalnya aku lagi sibuk banget nanti juga ada meeting gimana ? gak papa kan ?" terdengar suara sam yang cepat seperti kereta api.
jessica kecewa dengan sikap sam ia langsung menutup telepon dan otomatis pembicaraan mereka terputus jessica hanya bisa mengerutkan dahinya dan cemberut duduk di sudut ruangan kantornya, tiba-tiba saja seorang pelayan menggubrak pintu kantor jessica sambil menangis.
"ada apa blaire , kenapa kau menangis ?" pelayan tampak sangat berantakan rambutnya acak-acakan seperti telah diterkam harimau ganas, ia langsung bersembunyi di bawah meja jessica sambil memeluk kedua lututnya.
"DIMANA WANITA JALANG ITU," terdengar suara wanita yang memasuki ruangan jessica tak lama setelah pelayan itu.
"tenanglah nyonya, ada yang bisa saya bantu." wanita itu langsung mengarahkan matanya ke arah jessica.
"di mana wanita jalang yang kau sembunyikan itu." ia melihat ke seluruh ruangan tapi tak melihat pelayan tadi.
"ada apa sebenarnya nyonya." jessica langsung mengajak wanita itu keluar tapi ia tidak mau ia malah memutari meja kerja jessica dan menemukan blaire yang tengah meringkuk ketakutan disana.
"disini kau rupanya." dia pun menarik kerah baju blaire dan ingin menamparnya.
tapi jessica dengan sigap menangkap tangan wanita itu dan menahan kedua tangannya,
"apa yang akan kau lakukan padanya? " jessica menyuruh pelayan itu keluar dari kantornya.
"wanita itu telah menggoda suamiku. pantas saja suamiku suka bertahan disini, karena ia menemukan wanita gila itu." wanita itu bersikeras ingin melepaskan tangannya.
"yang seharusnya disebut gila itu adalah anda,, anda tiba-tiba datang dan ingin membunuh salah satu pelayanku. bukankah hal yang seharusnya anda lakukan adalah berdandan lebih sexy daripada pelayan disini.agar suami anda betah dirumah, lagipula suami anda yang kegenitan, lebih baik anda jaga suami dan kelakuan anda , dan tolong keluar dari restaurant ini, atau saya panggil polisi." jessica masih menggenggam kedua tangan wanita paruh baya itu dengan sangat kencang.
"baiklah -baiklah tapi lepaskan aku. " mendengar hal ini jessica pun melepaskan kedua tangan wanita itu . tapi wanita itu mengambil botol kaca dan bermaksud memukul kepala jessika yang tengah membelakanginya.
"dasar kau !!!!!!!" jessica membalikkan badannya dan melihat tangan wanita itu di pegang oleh seseorang dari belakang dan mengambil tangan yang lainnya dan ia pun menjatuhkan botol kaca itu.
"SAM !" jessica melihat sam yang tengah bersikeras menahan kedua tangan wanita itu dan ada dua orang polisi yang datang dan langsung memborgolnya.
sam langsung memeluk jessica dengan erat, jessica juga tidak percaya kalau yang selama ini sam begitu sibuk, tiba-tiba ada di depannya dan memeluknya dengan erat.
"syukurlah kau tidak apa-apa.. " san terus memeluk jessica,
"aku ketakutan sam." jessica terus memeluk sam dan tiba-tiba tubuhnya bergetar, keringat mengucur deras, dan jessica tak bisa membendungnya lagi ia pingsan tepat di pelukan sam.
jessica mencoba membuka matanya yang berat itu ia melihat sam tengah memegang tangan kanannya dan ia tengah ada di sofa panjang di kantornya.
"sam ?" sam langsung mencium kening jessica.
jessicapun melihat sekelilingnya dan melihat banyak pelayannya menungguinya.
"kenapa kalian ..... tidak bekerja ?" jessica melihat mereka semua dengan mata yang masih sayu.
"anda adalah atasan yang baik . kami ingin terus bersama anda. kami sangat khawatir sampai-sampai kami menutup restoran." kata seorang chef berbadan agak gemuk.
"maafkan saya, saya sudah menyuruh pria itu pulang tapi dia tidak mau ia selalu ingin saya yang melayani setiap ia makan disini. jika saya tidak melayaninya, ketika pulang ia akan menemui saya dan mengancam, saya sangat ketakutan." blaire pun menangis dan tertunduk di depan jessica.
"tapi tenang saja kau sudah aman dia sudah ditangkap kan ?" jessica mencoba menghibur blaire. dan itu berhasil blaire pun tersenyum tapi masih terduduk diam.
"kau sam ? bukannya kau ada meeting." jessica mencoba bangun dan dibantu oleh sam.
"sebenarnya meeting itu sudah ku cancel , kau tau kenapa aku selalu sibuk ? aku menabung untuk membeli ini." sam pun mengeluarkan kotak dari sakunya.
"jessica ,,,, aku merasa bersalah setiap kali kau telfon pasti aku sibuk, aku merasa bersalah karena aku tidak ada untukmu tapi aku sangat mencintaimu dan saat kau menutup telepon secara tiba-tiba aku langsung kemari. dan aku ingin kau bersamaku selamanya jessica, maukah kau menikah denganku, aku tau mungkin kau membenciku tapi ....." jessica pun mengarahkan telunjuknya ke mulut sam.
"tidak sam,,,, aku tidak membencimu,,, memang kadang-kadang, tapi .... perasaanku sama denganmu. aku juga sangat mencintaimu sam. dan aku bersedia menjadi pengantinmu" jessica langsung memeluk sam. ia tak menyangka hal ini akan terjadi padanya.
sam benar kesibukan yang selama ini dijalaninya hanya untuk jessica. jessica tak bisa menahan senyumnya yang merekah. bahkan matanya yang sayu kini berubah sangat cerah.
jessica tak menyangka sam membelikannya cincin yang langsung disematkan ke jari manisnya.
"kau suka...?" sam hanya tersenyum kepada jessica.
"kau gila ? aku sangat menyukainya." jessica langsung mencium sam didepan semua orang bahkan ada yang menutup matanya.
-the end-
Langganan:
Postingan (Atom)